Angka US$ 45 miliar itu bukan sekadar target kosong. Bahlil Lahadalia, yang kini merangkap Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, menyebut angka itu langsung di hadapan pelaku bisnis dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Rabu (14/10). Indonesia perlu menumbuhkan ekspor nikel sekitar 12,5% dari realisasi 2025 yang sudah melampaui US$ 40 miliar. Tidak kecil.
Tahun 2023, ekspor nikel Indonesia tercatat US$ 34 miliar. Dua tahun berselang, sudah tembus US$ 40 miliar lebih. Trennya memang menanjak, tapi lompatan berikutnya agaknya tidak akan semudah yang sudah-sudah.
Bisman Bakhtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), menyebutnya "berat dan sangat menantang" tapi masih dalam ranah mungkin, asalkan ada upaya yang luar biasa. Nilai ekspor, ia ingatkan, bukan semata soal harga komoditas. Kombinasi harga jual, volume ekspor, dan komposisi produk yang dipasarkan, itulah yang benar-benar menentukan. Kalau pemerintah hanya pasrah menunggu harga nikel naik di pasar global, target itu tinggal angka di atas kertas.
Sejumlah risiko memang mengintai. Kelebihan pasokan global masih jadi momok, dan angka yang beredar cukup bikin was-was: sekitar 2,5 juta ton. Pelemahan permintaan, volatilitas harga, sampai perubahan kebijakan produksi yang memukul kepastian pasokan bijih ke smelter, semuanya bisa memangkas laju ekspor kapan saja.
Namun ada satu proyeksi yang cukup melegakan. Shanghai Metals Market (SMM) memperkirakan permintaan nikel global tumbuh 21,39% dalam lima tahun ke depan, dari 3.717 kiloton nikel pada 2026 menjadi 4.512 kiloton pada 2031. Baterai dan baja nirkarat jadi mesin pertumbuhannya. Kalau momentum ini tidak dimanfaatkan, itu baru namanya mubazir.
Maka desakan untuk memperdalam hilirisasi makin kencang. Imaduddin Abdullah, Direktur INDEF Green Transition Initiative, bicara blak-blakan: "Kuncinya, kita harus memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara," katanya. Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar dampak ekonomi yang menjalar ke industri dan pemasok lokal.
Rachmat Makkasau, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA), satu suara. Nilai tambah tertinggi ada di hilir, dan integrasi dari hulu ke hilir bukan sekadar jargon kebijakan. "Nilai tambah yang lebih tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia," tegasnya.
Langkah konkret sudah bergerak. Grup MIND ID lewat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama konsorsium CATL-Brunp-Lygend, mengembangkan pabrik baterai di Karawang dengan kapasitas awal 6,9 GWh, disiapkan untuk ekspansi hingga 15 GWh. Di Halmahera Tengah, kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mengolah nikel menjadi material baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat berbasis listrik secara terintegrasi. Ekosistem, bukan sekadar pabrik.
Satu kebijakan lagi sedang dikaji: moratorium bagi smelter yang hanya menghasilkan produk antara. Bahlil menyebut langkah ini juga dipertimbangkan sebagai rem terhadap ancaman oversupply global yang angkanya sudah menyentuh 2,5 juta ton. "Sekarang kan hilirisasi itu yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100 persen di sini," tegasnya.
Bisman menambahkan, prospek harga nikel hingga akhir 2026 masih berpeluang membaik, terutama jika pemangkasan produksi di beberapa negara benar-benar memperketat suplai global. Tekanan oversupply bisa mereda, ruang perbaikan harga terbuka. Tapi itu pun, kalau skenarionya benar-benar terjadi.
Pertanyaannya sederhana: apakah harga, volume, diversifikasi produk, dan utilisasi smelter bisa serentak bekerja di tahun yang sama? Itu yang sedang dipertaruhkan.