MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Target 1 Juta Motor Listrik Honda 2030: Antara Ben...

Bisnis

Target 1 Juta Motor Listrik Honda 2030: Antara Bendera di Puncak Gunung dan Realita 1 Persen

AHM mulai melunak soal target penjualan 1 juta motor listrik pada 2030. Di tengah penetrasi pasar yang masih di bawah 1%, pertanyaan besarnya bukan soal teknologi, tapi soal kepercayaan konsumen.

Soal Target Jual 1 Juta Unit Motor Listrik, Ini Kata Honda

Sepanjang 2025, total penjualan sepeda motor nasional menyentuh 6,4 juta unit. Dari angka segitu, motor listrik kebagian tidak sampai satu persen. Jauh, jujur saja, dari gambaran optimistis yang dulu sering disuarakan industri.

PT Astra Honda Motor (AHM) bukan pengecualian. Empat tahun lalu, produsen motor terbesar di Indonesia ini dengan percaya diri memasang target: 1 juta unit motor listrik terjual pada 2030. Target itu kini mulai disoal, termasuk oleh manajemennya sendiri.

Director Marketing AHM Octavianus Dwi memilih bahasa yang hati-hati ketika ditanya soal keberlanjutan angka tersebut. "Ya kita realistis juga. Karena ambisi is one thing, tapi kan ketika realisasi tuh ngeliat dari market, kesiapan pasar juga kita akan sesuaikan pasti," ujar Octa. Ia lalu memberi perumpamaan: bendera sudah ditancapkan di puncak gunung, tapi kecepatan tiap pemain mendaki bisa berbeda-beda.

Kedengarannya lebih seperti disclaimer ketimbang komitmen.

Untuk mencapai angka 1 juta unit itu, Honda sejak 2023 merancang peta jalan yang mensyaratkan kehadiran 7 model motor listrik di pasar Indonesia. Hingga pertengahan tahun ini, baru 4 model yang diperkenalkan. Tiga sisanya masih dalam pipeline, tanpa kepastian jadwal yang tegas.

Octa tidak menutup mata soal kondisi pasar. "Total marketnya pun saat ini baru 1% kali ya, atas total market," akuinya. Kesenjangan antara target dan realita, dengan kata lain, sudah jauh melampaui sekadar gap yang bisa ditambal kampanye marketing biasa.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) memperkuat gambaran itu. Penjualan sepeda motor nasional sepanjang 2025 tercatat 6.412.769 unit, naik 1,3 persen dari tahun sebelumnya. Untuk 2026, pasar diperkirakan bertahan di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit, dengan skutik bensin masih menguasai lebih dari 90 persen segmen. Motor listrik? Masih tamu asing di meja makan yang dikuasai mesin bakar.

Padahal dari sisi biaya, argumentasi pro-listrik sebetulnya cukup kuat. Dengan asumsi jarak tempuh sekitar 150 kilometer per hari selama 26 hari kerja, skutik bensin bisa menguras sekitar Rp1 juta per bulan untuk bahan bakar dan perawatan. Motor listrik yang mayoritas pengisian dayanya dilakukan di rumah? Pengeluaran bisa ditekan hingga kisaran Rp370 ribu sampai Rp400 ribu per bulan. Selisihnya sekitar Rp4 juta setahun. Buat pengemudi ojek online atau kurir yang motornya sumber nafkah, angka itu bukan hal sepele.

Tapi rupanya kalkulasi itu belum cukup meyakinkan pasar.

Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif ITB, membaca situasi ini dengan jernih. "Konsumen Indonesia sebenarnya tidak menolak motor listrik. Yang mereka butuhkan adalah bukti bahwa kendaraan ini benar-benar lebih menguntungkan dalam penggunaan sehari-hari, baik dari sisi biaya operasional maupun kepastian ekosistem pendukungnya," ujarnya. Pengguna dengan mobilitas tinggi seperti pengemudi ride-hailing, kata Yannes, justru bisa jadi motor penggerak adopsi karena merekalah yang paling merasakan efisiensi biaya secara langsung.

Pertanyaannya, berapa lama industri butuh waktu untuk meyakinkan segmen itu?

Kenyataannya, konsumen masih menggantung banyak tanda tanya: jaringan purna jual seberapa luas, suku cadang seberapa mudah didapat, baterai gampang diganti atau tidak, dan nilai jual kembali jatuh seberapa jauh. Pertanyaan-pertanyaan itu belum semuanya terjawab tuntas.

Octa sendiri mengakui ekosistem masih terfragmentasi. Ada sistem tukar baterai, ada pengisian langsung, ada yang hibrida keduanya. "Biarkan itu semua berjalan," katanya, yang terdengar seperti cara elegan untuk bilang bahwa belum ada satu solusi yang benar-benar menang di pasar.

Soal program konversi motor berbahan bakar ke listrik yang sempat digadang-gadang pemerintah, Octa tidak terlalu banyak berkomentar. "Karena itu belum dijalankan ya kita belum tahu. Bagi market sebenarnya belum ada perbedaan apa-apa," ucapnya. Ketidakpastian regulasi, entah kebetulan atau tidak, kerap jadi salah satu faktor yang bikin investor dan konsumen sama-sama wait and see.

Target 1 juta unit pada 2030 kini terasa lebih seperti aspirasi jangka panjang daripada roadmap yang terukur. Bukan mustahil. Tapi dengan penetrasi yang masih berkutat di level 1 persen dan empat tahun tersisa menuju tenggat, Honda agaknya perlu lebih dari sekadar menambah model baru untuk membalik keadaan.