RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Taiwan Buka Kanal Intelijen Digital, Beijing Merad...

Internasional

Taiwan Buka Kanal Intelijen Digital, Beijing Meradang

Biro Keamanan Nasional Taiwan meluncurkan platform digital khusus yang mengundang warga China untuk menyetor informasi intelijen, langkah yang langsung memantik kecaman keras dari Beijing.

Taiwan berusaha melemahkan rezim Tiongkok dengan menyiapkan situs web "aman" bagi warganya untuk meneruskan intelijen

Taipei kini punya situs baru. Beijing tidak senang.

Biro Keamanan Nasional Taiwan (NSB) resmi meluncurkan platform digital untuk menampung informasi intelijen dari warga China daratan pada Senin (15/6/2026). Langkah ini bukan operasi siber biasa, bukan, maaf: ini sinyal terbuka bahwa persaingan intelijen di Selat Taiwan sudah bergeser ke arena yang jauh lebih publik dan agresif.

Situs tersebut, yang diblokir dari mesin pencari umum di China, menyasar individu yang, menurut framing NSB, "memiliki nilai-nilai demokrasi yang sama" dengan Taiwan. Aksesnya lewat VPN, sesuatu yang sudah lama jadi kebiasaan jutaan warga China untuk menembus tembok sensor Beijing.

Strategi pemasarannya cukup canggih untuk sebuah lembaga intelijen. NSB memproduksi video promosi berdurasi satu menit menggunakan teknologi AI, menggambarkan seorang pegawai negeri sipil China yang menyaksikan rekan-rekannya satu per satu dipecat dan diselidiki. Adegan penutupnya: sang tokoh membeli ponsel baru sambil berucap, "Sekaranglah waktunya untuk berubah." Narasi yang sengaja dibuat untuk menggedor rasa tidak puas, dengan audiens yang dituju sangat spesifik.

NSB mengklaim tren ini bukan muncul dari ruang hampa. Tekanan ekonomi China dalam beberapa tahun terakhir, yang diperparah meluasnya keresahan sosial dan masalah mata pencaharian, disebut sebagai pemicu utama meningkatnya jumlah warga China yang secara sukarela mendekati pihak Taipei. "Semakin banyak individu yang menghubungi lembaga-lembaga terkait di Taiwan," tulis NSB dalam pernyataan resmi berbahasa Mandarin dan Inggris. Klaim yang masih perlu dibuktikan, tapi tidak bisa begitu saja diabaikan.

Taipei juga tidak ragu menyebut referensinya. Platform ini diklaim mengadopsi praktik badan intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel dalam mendiversifikasi sumber informasi. Perbandingan yang sekaligus positioning: bahwa Taiwan sedang bermain di liga yang sama dengan sekutu-sekutu Baratnya.

Beijing merespons keras. Juru bicara Kantor Urusan Taiwan Chen Binhua, dikutip CCTV, menyebut situs tersebut merusak hubungan lintas selat dan mencerminkan "pola pikir konfrontatif yang terus-menerus" dari Partai Progresif Demokratik yang berkuasa di Taipei. "Kami mengutuk keras tindakan ini dan akan mengambil tindakan balasan yang tegas," kata Chen. Ia juga memperingatkan bahwa warga China yang menyetor informasi ke Taiwan akan dimintai pertanggungjawaban secara hukum, karena seluruh warga negara China wajib menjaga keamanan nasional.

Konteks geopolitisnya perlu dicermati: China lebih dulu bergerak. Pada 2024, Beijing membuka saluran email serupa yang mengundang masyarakat umum melaporkan dugaan tindakan "makar" oleh kelompok yang disebutnya separatis Taiwan. Entah kebetulan atau tidak, kedua belah pihak kini sama-sama punya kanal digital untuk saling mengintai. Ibarat pedang bermata dua, eskalasi ini bisa berbalik sewaktu-waktu.

Taipei konsisten menolak klaim kedaulatan Beijing atas pulau tersebut, dan menegaskan masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Manuver militer, drone, dan tekanan diplomatik dari Beijing terus meningkat. Pembukaan kanal intelijen digital ini menegaskan bahwa sebagian perang sesungguhnya sudah lama berlangsung jauh di bawah permukaan, jauh sebelum kapal perang pertama bergerak.