Neraca perdagangan Indonesia boleh terus surplus, tapi pasar valuta asing punya ceritanya sendiri. Rupiah tetap tertekan. Seolah angka-angka itu tidak cukup bicara.
Gejolak geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menambah kerumitan kalkulasi pelaku pasar. Bukan cuma soal risiko konflik fisik, eh, bukan: bukan cuma soal konflik terbuka, tapi efek dominonya terhadap rantai perdagangan global yang kini makin mudah tersentak. Bagi Indonesia, situasi ini agaknya menjadi sinyal bahwa bersandar pada satu-dua mitra dagang saja sudah bukan opsi yang aman.
Eko Listiyanto, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut gejolak ini justru bisa jadi momentum. "Ini saatnya Indonesia melebarkan partner-partner dagang strategis, tidak hanya dengan Amerika Serikat," ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Diversifikasi. Sesederhana itu pesannya. Eko mendorong pemerintah aktif menjajaki pasar-pasar baru di kawasan Eropa dan Asia sebagai penyeimbang. Kalau ketergantungan pada satu kawasan terlalu besar, surplus neraca dagang pun rentan terguncang begitu permintaan global meredup atau hubungan dengan mitra utama memanas.
Masalahnya, surplus yang beruntun belum cukup jadi bantalan kuat bagi rupiah. Pasar mata uang bekerja dengan logika berbeda dari neraca dagang. Sentimen global, arah suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, selera risiko investor asing, kerap lebih bertenaga mendorong kurs ketimbang data ekspor-impor bulanan mana pun.
Tantangannya bak pedang bermata dua. Pemerintah perlu menjaga surplus agar tidak tergerus lemahnya permintaan global, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa nilai tukar yang goyah bisa mengerek biaya impor bahan baku dan menekan margin produsen berorientasi domestik. Dua beban, satu waktu.
Pertanyaannya: seberapa cepat Indonesia betul-betul bisa menggeser ketergantungan dagangnya? "Berkunjung ke banyak negara kawasan Eropa dan Asia," begitu saran Eko, dan itu langkah yang perlu. Tapi hasilnya tidak instan, kalau data ini bisa jadi patokan dari pengalaman negosiasi dagang sebelumnya. Rupiah harus menghadapi tekanan hari ini. Bukan tahun depan.