Tujuh puluh satu bulan. Sejak Mei 2020, Indonesia belum sekalipun membukukan defisit neraca dagang. Rekor yang, jujur saja, tidak banyak negara berkembang bisa mengklaimnya.
Maret 2026 menambah satu angka lagi ke tren itu. Surplus neraca perdagangan tercatat US$3,32 miliar, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding Februari yang hanya US$1,27 miliar. Ekspor jadi penopang utama: nilai pengiriman barang ke luar negeri mencapai US$22,55 miliar, tumbuh 3,10% secara tahunan. Impor naik lebih modest, 1,51% YoY, dengan nilai US$19,21 miliar.
Bukan angka kecil.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut surplus itu ditopang kinerja ekspor. Selisih yang melebar antara kedua sisi neraca ini memang memberi ruang napas bagi posisi eksternal Indonesia.
Tapi di sinilah ironinya. Surplus yang tebal itu agaknya tidak cukup meyakinkan pasar bahwa rupiah layak menguat. Mata uang garuda tetap tertekan, tertinggal dari sejumlah valuta Asia lain yang mulai memperlihatkan pemulihan. Sentimen global dan risiko domestik yang belum mereda membuat efek transmisinya tumpul. Bak gayung yang tidak bersambut.
Bagi pelaku pasar, kombinasi ini ibarat pedang bermata dua. Surplus dagang yang konsisten memperlihatkan fundamental eksternal Indonesia masih kokoh. Tapi ketidakmampuan angka itu mendorong penguatan rupiah memberi sinyal bahwa tekanan bersumber dari tempat lain: diferensial suku bunga, capital outflow, atau outlook global yang masih penuh kabut. Berapa lama pasar sabar menunggu?
Tujuh puluh satu bulan surplus beruntun adalah prestasi yang tidak main-main. Kalau rupiahnya masih jalan di tempat, pasar jelas sedang menunggu lebih dari sekadar neraca dagang yang bersih.