SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Stok Rudal AS Menipis, Trump Santai, Iran Tetap Ma...

Internasional

Stok Rudal AS Menipis, Trump Santai, Iran Tetap Manuver

Di tengah laporan penipisan persediaan senjata AS akibat konflik dengan Iran, Trump mengklaim cadangan militernya justru berlipat ganda. Sementara itu, Iran terus bermanuver, mempersulit posisi tawar Washington.

Persediaan rudal AS terkuras. Empat tahun, menurut sejumlah kalangan, adalah waktu yang dibutuhkan Pentagon untuk mengisi ulang amunisinya ke level sebelum konflik Iran meletus. Tapi Donald Trump tidak terlihat kehilangan tidur.

"Kita memiliki lebih dari dua kali lipat dari yang kita miliki ketika ini dimulai. Saya tidak khawatir," ujar Trump kepada wartawan, merespons laporan bahwa sejumlah pejabat Gedung Putih justru mulai gelisah soal tekanan serius pada cadangan amunisi AS.

Klaim itu patut dicermati.

The Atlantic melaporkan, mengutip dua pejabat senior pemerintahan Trump, bahwa Wakil Presiden JD Vance sudah beberapa kali mengajukan pertanyaan, secara tertutup, soal apakah Pentagon benar-benar objektif dalam menilai kondisi persediaan rudal. Bukan pertanda optimisme, agaknya. Lebih seperti sinyal bahwa ada kegelisahan yang coba diredam dari permukaan. Reuters juga melaporkan pada April bahwa Washington telah memberi tahu mitra-mitra Eropa soal potensi penundaan pengiriman senjata, termasuk ke negara-negara Baltik dan Skandinavia, karena AS perlu memprioritaskan kebutuhan militernya sendiri.

Iran juga bukan tanpa tekanan, itu benar. Blokade pelabuhan yang diberlakukan AS membuat rial diperdagangkan di kisaran 1,8 juta per dolar. Penutupan internet hampir total oleh Teheran memperparah kondisi ekonomi dalam negeri. Mark Pfeifle, analis keamanan nasional AS, mengakui bahwa "Iran sangat menderita" akibat situasi ini. Tapi dalam napas yang sama, ia juga menyebut Angkatan Laut AS saat ini tidak dalam posisi untuk memindahkan setiap kapal melalui Selat Hormuz.

Paradoks yang tidak kecil.

Trump, lewat apa yang ia sebut "Project Freedom", ingin memperlihatkan momentum kepada pasar dan opini publik domestik. Masalahnya, Iran paham betul bahwa Selat Hormuz adalah kartu terkuat mereka, dan mereka tidak berniat menaruhnya di laci begitu saja. Sultan Barakat, profesor dari Universitas Hamad Bin Khalifa di Qatar, menyebut serangan rudal dan drone Iran ke arah Uni Emirat Arab sebagai bentuk penolakan Teheran terhadap "normal baru" yang coba dipaksakan Washington di kawasan. "Mereka perlu terus bermanuver dan sedikit mengguncang situasi agar hal itu tidak menjadi kenyataan," kata Barakat.

Gencatan senjata sempat disepakati pada 21 April, dan Trump kala itu menyebutnya sebagai langkah positif, antara lain karena memberi ruang bagi militer AS untuk mengisi kembali persediaannya. Serangan Iran di Fujairah yang terjadi belakangan menunjukkan bahwa gencatan itu lebih rapuh dari yang dikira, atau bahkan, menurut sebagian analis, sudah dilanggar.

Bagi pemerhati geopolitik, konflik ini agaknya sedang dibaca dengan seksama oleh pihak ketiga yang berkepentingan. Ketika kapasitas militer AS terekspos batas-batasnya di satu medan, pertanyaannya wajar: seberapa lebar ruang yang terbuka bagi aktor lain di panggung global?

Pfeifle merumuskan tantangan itu dengan cukup telak. "Dengan semua yang terjadi di dalam negeri Iran, Trump masih belum mampu membawa mereka ke meja perundingan untuk menangani masalah nuklir," katanya. Teheran mau berdamai soal blokade dan Selat Hormuz, tapi nuklir minta dibicarakan belakangan. Dan itu, kalau data ini bisa dipercaya, bukan urutan yang bisa diterima Trump begitu saja.