RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Stok Minyakita di Malang Menipis, Bulog Berpacu Am...

Bisnis

Stok Minyakita di Malang Menipis, Bulog Berpacu Amankan Pasokan

Ketersediaan Minyakita di Kota Malang tersisa sekitar 9 ribu liter dan Bulog setempat mengakui kondisinya belum sepenuhnya aman, meski koordinasi dengan Bulog Jawa Timur terus dijalankan.

Sembilan ribu liter. Itu saja yang tersisa dari stok Minyakita di Kota Malang saat ini, dan Perum Bulog Cabang Malang sendiri mengakui kondisinya belum bisa disebut aman.

"Kalau dibilang aman masih belum. Saat ini tidak terbatas, berapa pun pasti terserap pasar," ucap Kepala Perum Bulog Cabang Malang M Nurjuliansyah Rachman di Kota Malang, Minggu.

Permintaan terus mengalir, sementara kepastian soal berapa besar tambahan pasokan yang bakal masuk belum bisa dijawab. Bulog Malang mengaku tidak bisa menentukan sendiri kuantum distribusi tambahan karena sepenuhnya bergantung pada pengiriman dari produsen. "Jadi, begitu mendapatkan informasi kalau sudah ada kami langsung ambil," kata Nurjuliansyah.

Untuk menjaga situasi tidak makin pelik, Bulog Malang menggandeng Satgas Pangan Polresta Malang Kota dalam pengawasan rutin di pasar-pasar yang masuk sistem pemantauan SP2KP, termasuk Pasar Dinoyo dan Pasar Bunul. Kalau terdeteksi ada potensi kekurangan, intervensi pasokan langsung dijalankan. Skemanya sederhana: pantau, temukan celah, isi.

Koordinasi dengan Bulog Jawa Timur pun sudah berjalan. Nurjuliansyah menyebut kantor wilayah Bulog Jatim menaungi 13 cabang di seluruh kabupaten dan kota, sehingga distribusi tambahan harus dibagi merata agar harga di masing-masing wilayah tetap terjaga di level HET Rp15.700 per liter.

Di tingkat pedagang, situasinya sedikit lebih tenang. Supriyono, pedagang di Pasar Bunul, bilang lapaknya baru saja mendapat tambahan 12 dus dan stok itu diperkirakan cukup untuk sepekan. Permintaan memang tinggi, kata dia, karena Minyakita jadi pilihan utama pembeli yang keberatan dengan harga minyak goreng premium yang kini sudah menyentuh Rp44 ribu per dua liter.

Selisih harga yang terpaut jauh itulah yang membuat Minyakita nyaris tidak pernah sepi peminat. Selama gap harga masih sebesar ini, tekanan terhadap stok di pasar-pasar tradisional agaknya tidak bakal mereda. Pertanyaannya, sampai kapan produsen sanggup mengejar permintaan yang, seperti diakui Bulog sendiri, memang tidak terbatas?