Laporan Food and Wine yang dirilis akhir April 2026 menegaskan satu hal yang sudah lama diketahui pelancong kelas atas: pengalaman makan di pesawat bukan lagi sekadar urusan perut kenyang, melainkan bagian dari proposisi nilai maskapai itu sendiri, dan persaingannya kian brutal.
Singapore Airlines kembali bertengger di puncak. Bukan kejutan. Tapi konsistensinya sulit dibantah. Melalui program "Farm to Plane", maskapai ini menjamin kesegaran bahan baku dengan menggandeng produsen lokal secara langsung. Yang paling dikenal adalah layanan "Book the Cook" untuk penumpang kelas premium, eh, maaf, mari kita luruskan: penumpang bisa memesan lobster thermidor atau nasi ayam khas Singapura setidaknya 24 jam sebelum boarding. Reservasi layanan ini, menurut laporan industri, terus meningkat tiap tahun.
Emirates menyusul di posisi kedua dengan pendekatan yang berbeda: estetika. Alat makan stainless steel, meja berlapis kayu, menu kelas bisnis seperti daging sapi lada hitam ala Thailand atau puding sagu kelapa. Emirates juga tidak melupakan penumpang ekonomi, dengan sajian salad barley dan paella sayuran. Agaknya bukan langkah altruistik semata, ini strategi menjaga persepsi merek secara menyeluruh, dari kursi paling belakang sekalipun.
All Nippon Airways menempati posisi ketiga berkat program "Connoisseurs", sebuah konsep kurasi menu yang melibatkan chef profesional dan sommelier sekaligus. Beef sukiyaki hadir berdampingan dengan pilihan ramah lingkungan yang memanfaatkan bahan dari daur ulang limbah makanan penerbangan. Bahkan snack-nya tidak main-main: roti lembut, kerupuk beras tradisional, ramen vegan hangat. Kalau data ini bisa dipercaya, ANA sedang membangun standar tersendiri di segmen kuliner penerbangan.
Japan Airlines duduk di peringkat keempat. Filosofi omotenashi, ketulusan pelayanan khas Jepang, diterapkan hingga ke meja makan. Sesi makan terasa seperti duduk di restoran di sudut Tokyo, bukan di ketinggian 10.000 meter. Menu kelas atas mencakup omelet belut, roast beef, dan sup miso, sementara layanan tengah malam tersedia bagi penumpang yang lapar di luar jadwal reguler. Di kelas ekonomi pun, JAL tetap mengusung cita rasa lokal dari penjuru Jepang.
Air France menutup lima besar. Kolaborasi dengan chef Daniel Boulud menjadi andalan untuk menjaga standar rasa setingkat bintang Michelin. Di kelas utama, ayam jamur rempah dan cokelat premium disajikan bersama wine kurasi sommelier. Maskapai ini juga bergerak ke arah keberlanjutan dengan menekan penggunaan plastik sekali pakai pada peralatan makan.
Satu catatan relevan bagi pelancong bisnis Indonesia: tak satu pun maskapai lokal yang masuk daftar ini. Garuda Indonesia, satu-satunya nama domestik yang pernah punya reputasi layanan premium, absen dari pemeringkatan global ini. Bisa jadi fokus pemulihan pasca-restrukturisasi membuat investasi di segmen kuliner belum menjadi prioritas. Entah kebetulan atau tidak, absennya Garuda justru memberi gambaran tentang seberapa jauh jarak yang harus ditempuh industri penerbangan domestik untuk bersaing di level yang sama.