Setoran PT Freeport Indonesia ke kas negara tahun ini diprediksi turun cukup dalam. Perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia itu memproyeksikan penerimaan negara dari operasionalnya hanya akan mencapai US$2,6 miliar sepanjang 2026, anjlok 39,5 persen dibanding realisasi 2025 yang tercatat US$4,3 miliar. Selisihnya hampir US$1,7 miliar, bukan angka yang bisa ditelan begitu saja.
Penyebabnya sudah diketahui: longsor di area tambang Grasberg, Papua, yang hingga kini masih membayangi pemulihan produksi. Ramp-up berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, dan dampaknya kini terbaca jelas di angka-angka yang dilaporkan ke DPR.
Dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7), Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan bahwa produksi logam tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 800 juta pound tembaga dan 700.000 troy ounce emas, atau setara 21 ton. "Tahun 2026 jumlah logam yang akan kita hasilkan kira-kira 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas, atau kalau diekuivalenkan ke tonase bisa mencapai 21 ton," ungkap Wenas.
Lebih rendah empat ton dari target semula. Target awal dipatok 26 ton, dan pemangkasan sebesar itu, kalau diukur proporsional, memangkas rencana produksi emas hampir seperempatnya.
Manajemen menyebut kondisi ini sementara. Harapannya, produksi kembali ke level normal pada 2027 seiring ramp-up yang terus berlangsung. Setidaknya itu klaim manajemen, yang masih perlu dibuktikan. Pemulihan pascalongsor di tambang bawah tanah berskala Grasberg bukan perkara yang selesai dalam hitungan bulan.
Bagi pemerintah Indonesia sebagai pemegang kepentingan, penurunan setoran sebesar ini bukan kabar ringan. Freeport selama ini menjadi salah satu kontributor penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba yang cukup diandalkan. Koreksi hampir 40 persen dalam satu tahun akan terasa di neraca, terutama dengan kebutuhan fiskal yang sedang tidak longgar.
Pertanyaannya sekarang: apakah 2027 benar-benar menjadi tahun pembalikan, atau timeline itu masih bisa bergeser lagi?