Tujuh dari sepuluh. Itu catatan September terhadap IHSG dalam satu dekade terakhir, dan angka itu cukup untuk membuat pelaku pasar memasang kuda-kuda lebih awal dari biasanya.
IHSG menutup Agustus 2026 di level 6.525,48, lalu langsung melompat 1,14% ke 6.564,51 pada sesi pertama September, Selasa (1/9). Pembukaan yang cukup meyakinkan, meski satu hari penguatan belum bisa menghapus rekam jejak yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Rata-rata return September dalam 10 tahun terakhir tercatat minus 0,88%, median minus 0,55%. Arahnya konsisten: lebih sering turun daripada naik.
Kinerja terburuk terjadi September 2020, ketika IHSG ambles 7,03% dihajar kepanikan pandemi. Yang terbaik adalah September 2025, indeks menguat 2,94%, ironisnya justru ketika asing membukukan net sell Rp3,80 triliun. Dua data itu sendiri sudah cukup menjelaskan bahwa foreign flow bukan satu-satunya penentu arah indeks.
Pola asing di September juga tidak jauh berbeda: net sell terjadi tujuh dari sepuluh periode. Rata-rata foreign outflow bulan ini mencapai Rp1,37 triliun, dengan puncaknya September 2020 ketika asing kabur membawa Rp15,59 triliun. September 2024 justru jadi periode dengan inflow terbesar, net buy sekitar Rp25,02 triliun, tapi IHSG tetap saja tergerus 1,86%. Bak gayung yang tidak bersambut.
Menjelang September 2026, posisi asing di pasar reguler selama Agustus mencatat net sell Rp3,44 triliun. Kalau dihitung seluruh pasar termasuk negosiasi dan tunai, angkanya berbalik jadi net buy Rp1,19 triliun. Jangan terlalu cepat senang. Net buy di seluruh pasar kemungkinan besar ditopang transaksi pasar negosiasi yang tidak langsung membentuk harga. Sinyal pemulihan yang sesungguhnya baru bisa diklaim kalau pasar reguler ikut berbalik jadi net buy secara konsisten.
Beberapa analis menyebut adanya buying bias yang mulai terbentuk di awal September ini. Agaknya sinyal itu perlu dicermati, tapi menyebutnya tren masih terlalu prematur.
Ada tiga skenario yang beredar untuk IHSG akhir September. Bear case di 6.300, kalau tekanan jual asing berlanjut, rupiah melemah, dan risk-off global kembali menguat dengan penjualan terkonsentrasi di saham perbankan berkapitalisasi besar. Base case di 6.800, proyeksi utama karena pasar tidak butuh foreign inflow besar untuk bergerak naik. Cukup net sell reguler yang menyusut, rupiah relatif stabil, dan domestik yang terus beli. Bull case di 7.000, butuh foreign flow pasar reguler yang benar-benar berbalik jadi net buy, penguatan rupiah, dan minat investor global terhadap aset emerging market yang naik lagi. Pertanyaannya, berapa banyak dari ketiga kondisi itu yang bisa terpenuhi sekaligus?
Satu variabel lagi bisa mengubah kalkulasi ini: MSCI. Potensi pengumuman lanjutan soal pencabutan pembekuan FIF dan NOS berpeluang jadi katalis untuk rebalancing November 2026. Kalau itu terjadi, foreign inflow yang masuk bukan soal sentimen harian, melainkan mandatory reallocation dari fund-fund besar. Indonesia dinilai cukup solid untuk mempertahankan posisinya di indeks Emerging Markets, mengingat reformasi transparansi bursa belakangan ini mendapat respons positif dari investor institusional.
September effect nyata, datanya tidak bohong. Tapi pasar juga tidak selalu patuh pada kalender.