Brent menembus US$114,44 per barel. Bukan angka main-main.
Harga minyak dunia melesat tajam pada perdagangan Senin (4/5/2026) setelah Iran meningkatkan serangan ke Uni Emirat Arab dan sejumlah kapal di kawasan Teluk Timur Tengah dalam 24 jam terakhir. Eskalasi terbesar sejak gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku awal April lalu, dan pasar merespons seketika.
Minyak mentah Brent ditutup melonjak US$6,27 atau 5,8% ke level US$114,44 per barel. WTI tak kalah agresif, melejit US$4,48 atau 4,4% ke posisi US$106,42 per barel. Keduanya serentak menyentuh level tertinggi sejak ketegangan geopolitik kawasan kembali menghangat.
Api disiram minyak ketika Presiden AS Donald Trump angkat bicara: Washington siap membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Alih-alih menenangkan pasar, pernyataan itu justru memperkuat persepsi bahwa situasi di jalur strategis tersebut lebih gawat dari yang terlihat di permukaan.
Selat Hormuz bukan sembarang jalur. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas di sana setiap harinya. Kalau akses terganggu, bahkan sebentar saja, efeknya langsung terasa di harga spot global. Pelaku pasar agaknya sudah menghitung skenario terburuk itu.
Entah kebetulan atau tidak, lonjakan ini terjadi saat stok minyak AS sedang tertekan dan permintaan dari Asia mulai pulih pasca-pelemahan kuartal pertama. Kombinasi supply shock geopolitik dengan demand yang mulai menggeliat, ibarat pedang bermata dua bagi negara-negara importir besar. Bagi Indonesia khususnya, tekanan ini bisa jadi bumerang ganda.
Bagi investor di pasar modal domestik, ini sinyal yang patut dicermati. Saham-saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) historis bergerak searah dengan harga minyak global. Emiten yang bergantung pada bahan bakar, maskapai penerbangan dan industri petrokimia, bakal merasakan tekanan margin yang tidak kecil.
Pertanyaannya sekarang: sampai kapan? Selama Selat Hormuz belum kembali normal dan Trump masih melontarkan pernyataan yang bisa dibaca dua arah, harga minyak punya alasan kuat untuk bertahan di ketinggian ini.