Nota kesepahaman damai antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian ditandatangani Rabu malam, mengakhiri konflik yang nyaris empat bulan membekukan salah satu selat tersibuk di dunia. Iran setuju membuka Selat Hormuz tanpa pungutan biaya selama minimal 60 hari, AS mencabut blokade, dan pasar minyak langsung merespons: harga jeblok menembus bawah US$80 per barel.
Tapi jangan senang dulu. Kesepakatan di atas kertas dan pemulihan pasokan di lapangan adalah dua hal yang sangat berbeda.
Sedikitnya 118 kapal tanker bermuatan penuh masih terdampar di dalam kawasan Teluk Persia, menunggu giliran melintas. Firma riset Kpler memperkirakan antrean ini butuh 10 hingga 15 hari hanya untuk dikuras, eh, bukan, bukan em dash, dan itu pun semata efek mekanis dari pembukaan jalur, bukan cerminan pulihnya kapasitas ekspor secara mendasar. Sebelum konflik, volume lalu lintas mingguan di Selat Hormuz berkisar antara 650 hingga 770 kapal, setara 90 hingga 110 pelayaran per hari dari dua arah.
Data QuantCube Technology belum menunjukkan lonjakan pada volume keberangkatan ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, maupun Irak. Di Dammam, kompleks ekspor Ras Tanura, kapal tanker yang sudah selesai memuat justru dikirim ke lepas pantai untuk ikut mengantre. "Sejak 8 Juni, kapal tanker yang berangkat dari Dammam menghabiskan waktu jauh lebih lama untuk mengapung jangkar sebelum keberangkatan," kata Alan Lemangnen, ekonom senior QuantCube, merujuk pada tanda-tanda antrean yang terbentuk di luar pelabuhan.
Pemulihan harus melewati beberapa lapis hambatan sekaligus. Angkatan laut internasional harus mensertifikasi koridor transit benar-benar aman, proses yang diperkirakan butuh beberapa hari. Perusahaan asuransi risiko perang harus mengaktifkan ulang cakupan perlindungan mereka, karena tanpa itu pemilik kapal tidak akan bergerak. Lalu ada soal ranjau laut yang ditanam selama konflik. Kerja sama pembersihan antara militer Iran dan AS diprediksi berjalan lambat, dan ini bukan asumsi ringan.
"Sampai ada kepastian penuh bahwa tidak ada ranjau, prosesnya akan lambat dan memakan beberapa minggu karena hanya ada jalur sempit yang tersedia," tulis Nikos Petrakakos, direktur pelaksana manajer investasi maritim Tufton. Setelah jalur bersih pun, katanya, proses bisa kurang dari seminggu. Tapi banyak pihak bakal sangat berhati-hati di awal.
Adam Sharpe, Wakil Presiden Editorial Lloyd's List Intelligence, menegaskan tidak ada preseden sejarah untuk memulai ulang aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah gangguan sebesar ini. Skenario paling masuk akal, menurut Sharpe, adalah pembukaan bertahap dengan mekanisme manajemen lalu lintas yang melibatkan Iran dan Oman. Pertanyaan soal izin transit, biaya layanan, pengawalan angkatan laut asing, dan status ranjau belum terjawab secara konkret.
Soal asuransi, underwriter dipastikan tidak akan buru-buru. Premi tambahan kemungkinan tetap sensitif terhadap bendera kapal, kepemilikan, keterkaitan dengan Israel atau AS, riwayat perdagangan, dan jenis kargo. Penurunan premi baru akan terjadi kalau volume transit historis benar-benar terjaga dan pasar yakin pembukaan ini tidak bisa dibalik begitu saja.
Kpler juga mencatat sebagian besar ekspor minyak mentah UEA yang berhasil menembus selat selama masa perang dilakukan dengan metode "berlayar gelap", mematikan sistem GPS untuk menghindari radar musuh. Agaknya praktik ini masih berlanjut sampai ada kejelasan hukum soal kebebasan navigasi antara Washington dan Teheran. Kalau data ini bisa dipercaya, artinya sebagian volume yang terlihat "normal" selama konflik sebetulnya beroperasi di luar radar regulasi.
Prioritas antrean kapal pun tidak sesederhana yang dibayangkan. Tanker minyak dan pengangkut LNG diprediksi dapat giliran lebih dulu karena urgensi pasar global, sementara kapal kontainer dan kargo umum antre lebih panjang. Sharpe mengingatkan bahwa prioritas tidak murni soal komersial, melainkan juga menyertakan faktor lokasi kapal, bendera negara, kepemilikan, dan risiko politik yang dirasakan otoritas berwenang. Bukan main kerumitannya.
Goldman Sachs langsung memangkas proyeksi harga minyak Brent menjadi US$80 per barel untuk kuartal keempat 2026, turun dari perkiraan sebelumnya US$90 per barel, dengan rata-rata US$75 per barel untuk 2027. Goldman juga mencatat volume aliran minyak di kawasan Teluk kemungkinan sudah meningkat ke level 11 juta barel per hari berkat kombinasi pembukaan Hormuz dan optimalisasi rute pengalihan darurat.
Perbandingan Sharpe dengan Laut Merah layak dicatat. Banyak operator pelayaran tetap ogah kembali ke rute itu meski Houthi memberi sinyal gencatan senjata, karena tidak ada bukti keamanan yang konsisten di lapangan. Hormuz bisa berakhir sama: dibuka secara politik, tapi sepi secara operasional selama berminggu-minggu. Pertanyaannya, berapa lama pasar mau bersabar?