Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, tapi Isuzu Karawang Plant membuktikan bahwa satu dekade cukup untuk mengukir rekor yang belum disentuh produsen kendaraan komersial mana pun di Indonesia.
PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) resmi mencatatkan total produksi 300.000 unit di fasilitas manufaktur Isuzu Karawang Plant (IKP), Karawang, Jawa Barat, sejak pabrik mulai beroperasi pada 2015. Lebih dari sekadar angka kumulatif, pencapaian ini datang bersamaan dengan status yang agaknya menjadi kebanggaan tersendiri: IAMI kini menjadi satu-satunya produsen kendaraan komersial di Indonesia yang seluruh lini produknya telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kementerian Perindustrian, Kris Sasono Ngudi Wibowo, hadir langsung dalam seremoni pencapaian tersebut. Ia menyebut IAMI telah mengumpulkan 33 sertifikat TKDN, dengan capaian tertinggi nilai TKDN ditambah bobot manfaat perusahaan (BMP) menembus angka di atas 62 persen. "Hari ini tercatat Isuzu itu mempunyai 33 sertifikat TKDN dengan rentang lumayan tinggi, tertinggi itu TKDN plus BMP-nya di atas 62 persen. Ini capaian yang luar biasa dan ini salah satu pionir dari industri otomotif dalam melakukan komitmennya," kata Kris. Ia bahkan optimistis angka itu bakal lebih tinggi lagi setelah pembaruan sertifikasi mengacu pada Permenperin Nomor 35 Tahun 2025 yang menggantikan regulasi lama.
Dari tiga model utama yang diproduksi di Karawang, Isuzu Traga menjadi yang paling tinggi kandungan lokalnya: 46,45 persen. Disusul Isuzu GIGA di angka 38,07 persen, lalu Isuzu ELF sebesar 33,04 persen. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja. Di balik persentase-persentase itu ada 884 karyawan di lini produksi Karawang yang pekerjaannya bertumpu pada jaringan 117 pemasok lokal dan sub-material yang menyuplai komponen ke pabrik.
Presiden Direktur IAMI Masayasu Hideshima menyebut pencapaian ini sebagai "tonggak penting" dalam perjalanan perusahaan. "Kepercayaan pelanggan, dukungan pemerintah, para pemasok, dealer, serta dedikasi seluruh karyawan menjadi pondasi utama yang memungkinkan kami mencapai pencapaian ini. Kami akan terus meningkatkan kualitas produk, memperkuat daya saing manufaktur nasional, memperbesar kontribusi ekspor, serta menghadirkan kendaraan komersial yang mampu menjadi mitra bisnis terbaik bagi pelanggan di Indonesia maupun pasar global," ujar Hideshima di Karawang, Senin (20/7/2026).
Di lantai produksi, prosesnya lebih rumit dari yang terlihat dari luar. Engineering and Production Director IAMI Rodko Purba menjelaskan bahwa setiap unit melewati rangkaian panjang: pengelasan panel dengan kombinasi robot dan tenaga manusia, proses ED coating untuk lapisan antikarat yang menjangkau sudut-sudut tersembunyi bodi, pengecatan, trimming, hingga docking alias penyatuan kabin dengan sasis. Komponen datang dari dua jalur, yakni CKD yang diimpor dari Thailand, Jepang, dan Filipina, serta suplai dari 117 pemasok domestik.
Soal kecepatan produksi, ada gap yang cukup mencolok antar model. Isuzu GIGA butuh sekitar 40 menit per unit karena ukuran dan kompleksitasnya. ELF dan Traga, jauh lebih agresif. "Kalau ELF sama Traga, tujuh menit. Artinya setiap tujuh menit keluar satu kendaraan," kata Rodko. Tujuh menit per unit. Angka yang tidak main-main untuk kelas kendaraan niaga.
Karawang juga bukan sekadar dapur produksi untuk pasar lokal. Sejak 2019, fasilitas ini telah mengekspor kendaraan komersialnya ke 25 negara, mulai dari Jepang, Afrika Selatan, Filipina, hingga Panama. Pabrik yang sama juga memproduksi UD Quester dan UD Kuzer untuk pasar domestik.
Pertanyaannya sekarang: bisakah produsen otomotif lain di Indonesia mengikuti jejak IAMI dalam hal TKDN menyeluruh? Kemenperin jelas berharap demikian, dan kalau data ini bisa dipercaya, ekosistem suplai lokal di segmen kendaraan komersial sudah cukup matang. Apakah itu berlaku untuk segmen lain, itu cerita yang berbeda.