Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) kembali jadi sorotan setelah Samuel Sekuritas Indonesia tercatat memborong 1,75 miliar lembar saham emiten sarang burung walet itu dalam satu transaksi repo yang berlangsung 9 Juni 2026, menggelontorkan dana Rp661,34 miliar hanya dalam sehari.
Berdasarkan laporan kepemilikan yang dikirim ke OJK tertanggal 11 Juni 2026, Samuel Sekuritas membeli tepat 1.749.572.200 lembar saham RLCO di harga Rp378 per saham. Porsi kepemilikan broker berkode "IF" ini seketika melonjak dari 5,08 miliar saham atau 21,35% menjadi 6,83 miliar saham, setara 28,7% dari total modal disetor. Kenaikan 7,35% dalam sekali jalan. Bukan angka yang lumrah.
Yang membuat transaksi ini menarik bukan sekadar skalanya, melainkan konteksnya. Keterbukaan informasi di BEI menyebut tujuan transaksi adalah "penempatan, pencairan, dan top up repo", sebuah frasa yang bagi pelaku pasar berbunyi cukup keras. Top up dalam mekanisme repo lazimnya terjadi ketika nilai saham agunan merosot hingga rasio loan-to-value tidak lagi memenuhi batas minimum yang disyaratkan broker. Artinya, pihak yang menjaminkan saham wajib menyetor tambahan agunan agar posisinya tidak kena likuidasi paksa.
RLCO memang sudah ambles dalam. Saham ini sempat menyentuh all-time high di Rp8.700 pada 20 Januari 2026, lalu perlahan tapi pasti tergerus hingga tinggal Rp2.430 pada 8 Juni 2026, persis sehari sebelum transaksi repo ini dieksekusi. Koreksi 72,07% dari puncaknya. Wajar kalau asumsi margin call menguat di kalangan pelaku pasar.
Ada lagi detail yang agaknya luput dari perhatian banyak orang. Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, Samuel Sekuritas hanya tercatat memegang 5% atau 156,1 juta saham RLCO. Tapi per laporan 11 Juni, porsinya sudah 28,7%. Lonjakan sekitar 23,7 poin persentase dalam waktu singkat, jauh melampaui top up 7,35% yang dilaporkan terakhir. Dari mana sisanya? Pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab.
Samuel Sekuritas bukan pendatang baru di RLCO. Sekuritas ini juga bertindak sebagai underwriter saat IPO, sehingga keterlibatannya di struktur kepemilikan punya akar yang panjang. Tapi masuknya dana segar hampir setengah triliun lebih saat harga saham sedang dihajar koreksi brutal, bisa jadi bermata dua: upaya menjaga posisi, atau justru sinyal bahwa tekanan di balik layar lebih besar dari yang terlihat. Entah kebetulan atau tidak, timing-nya susah diabaikan.
Hingga berita ini ditulis, baik RLCO maupun Samuel Sekuritas belum memberi penjelasan soal latar belakang transaksi tersebut. Pasar menunggu.