JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Sakit Perut Usai Minum Susu UHT? Bisa Jadi Bukan S...

Bisnis

Sakit Perut Usai Minum Susu UHT? Bisa Jadi Bukan Salah Pabrik

Pakar IPB University meluruskan anggapan bahwa sakit perut setelah minum susu UHT selalu berasal dari kontaminasi pabrik. Ada tiga pemicu utama yang justru lebih sering diabaikan konsumen.

Epi Taufik Menjelaskan Penyebab Sakit Perut Setelah Minum Susu UHT

Banyak yang langsung menuding pabrik setiap kali perut mulas usai minum susu UHT. Padahal, akar masalahnya bisa jadi ada di lemari es kamu sendiri.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Epi Taufik, S.Pt, MVPH., M.Si, meluruskan kesalahpahaman yang sudah lama beredar di masyarakat ini. Dalam diskusi di Bintaro Exchange, Minggu (31/5/2026), sebagai bagian dari acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, Epi menegaskan bahwa setiap kasus gangguan pencernaan pascakonsumsi susu UHT harus diselidiki satu per satu, tidak bisa dipukul rata.

"Tergantung. Kita harus selidiki lebih jauh. Apakah susu UHT yang diminumnya sudah mulai busuk karena penyimpanan setelah dibuka yang terlalu lama," ungkap Epi.

Proses UHT dirancang untuk membunuh hampir seluruh mikroorganisme berbahaya. Standar produksinya ketat. Yang lebih sering jadi biang masalah justru apa yang terjadi setelah kemasan terbuka: susu dibiarkan di suhu ruang terlalu lama, disimpan asal-asalan, atau dikonsumsi jauh melewati batas aman setelah segel dibuka. Dalam kondisi itu bakteri bisa berkembang biak cepat, meski secara fisik susu belum terlihat rusak, tidak menggumpal, tidak berlendir.

Dari sinilah dua skenario bisa muncul. Pertama, infeksi bakteri atau food infection, di mana bakteri yang masuk ke saluran cerna butuh masa inkubasi sebelum gejala terasa. Kedua, keracunan makanan atau food poisoning, yang terjadi ketika bakteri sudah sempat memproduksi toksin di dalam susu sebelum diminum. "Kalau bakteri masuk ada jeda waktu. Itu yang disebut masa inkubasi. Kalau tidak lama diminum langsung terasa, itu keracunan," jelas Epi.

Perbedaan waktu munculnya gejala itu penting. Bukan soal sepele.

Ada pemicu ketiga yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kualitas susu: intoleransi laktosa. Kondisi ini muncul ketika tubuh kekurangan enzim laktase, sehingga gula alami susu tidak bisa dipecah semestinya dan berakhir di usus besar. Di sana, bakteri usus mengurai laktosa lewat fermentasi yang menghasilkan asam, gas CO2, dan alkohol. Hasilnya? Perut kembung, perih, dan diare, meski susu yang dikonsumsi masih segar dan kualitasnya prima.

"Jadi belum tentu sakit perut itu karena bakterinya. Bisa jadi karena intoleransi laktosa," tegas Epi.

Satu kalimat Epi yang agaknya paling perlu diingat: "Jangankan itu ya. Makanan apapun kalau busuk kita makan pasti sakit perut." Sederhana, tapi menohok. Susu UHT bukan produk ajaib yang kebal waktu begitu kemasannya terbuka, dan konsumen punya tanggung jawab yang tidak kecil dalam menjaga kualitasnya setelah sampai di tangan mereka.

Jadi sebelum ramai-ramai mengkritik produsen, ada baiknya periksa dulu: sudah berapa lama susu itu terbuka di kulkas kamu?