Sepanjang sesi perdagangan kemarin, ada yang agak ganjil di layar monitor para trader: saham Pinterest dan Snap kompak menguat setelah Meta mengumumkan peluncuran layanan berbayar untuk ketiga platform utamanya. Anomali kecil, memang. Tapi menarik, mengingat langkah Meta ini sejatinya lebih terasa sebagai ancaman bagi keduanya ketimbang kabar baik.
Meta resmi memperkenalkan paket berlangganan berlabel "Plus" untuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Harganya tidak terlalu mencolok: Instagram Plus dan Facebook Plus dibanderol sekitar Rp71.000 per bulan, WhatsApp Plus sedikit lebih murah di kisaran Rp53.000. Angka kecil, tapi impikasinya jauh melampaui sekadar tambahan fitur.
Fitur yang ditawarkan cukup beragam. Instagram Plus dan Facebook Plus memberi akses ke analitik Stories yang lebih dalam, termasuk kemampuan melihat siapa yang menonton ulang, membuat daftar audiens tanpa batas di luar Close Friends, hingga opsi memperpanjang durasi tayang Story melampaui 24 jam. Ada juga kemampuan mengunggah posting langsung ke profil sekaligus membuat highlight tanpa muncul di feed follower. Sentuhan kosmetik turut hadir: font bio tambahan, ikon aplikasi kustom, pin profil ekstra, dan animasi reaksi eksklusif bernama Super Heart. WhatsApp Plus mengambil jalur berbeda, fokus pada personalisasi pengalaman berkirim pesan: tema aplikasi, nada dering spesial, lebih banyak pin chat, dan stiker premium.
Kepala Produk Meta, Naomi Gleit, menjanjikan lebih banyak fitur akan ditambahkan di waktu mendatang. Klaim yang masih perlu dibuktikan konsistensinya.
Yang perlu dipahami: paket Plus ini bukan pengganti Meta Verified yang sudah lebih dulu ada. Meta Verified tetap berjalan dengan fokus pada verifikasi identitas dan perlindungan akun dari peniruan. Plus lebih menyasar pengguna aktif yang ingin pengalaman lebih kaya, bukan sekadar centang biru.
Belum cukup sampai di situ. Meta juga sedang menguji coba Meta One, paket berlangganan untuk pengguna Meta AI, dengan dua tier: Meta One Plus seharga sekitar Rp142.000 dan Meta One Premium di angka Rp356.000 per bulan. Keduanya menawarkan fitur serupa, tapi paket Premium menyediakan kapasitas kueri lebih besar dan penalaran yang lebih dalam, khususnya untuk tugas-tugas kompleks, plus kemampuan pembuatan video dan gambar yang lebih luas di berbagai aplikasi Meta. Uji coba dimulai bulan depan di Singapura, Guatemala, dan Bolivia. Ada pula paket Meta One Essential dan Advanced khusus kreator dan bisnis. Paket Advanced memungkinkan konten lebih mudah muncul di feed Facebook dan hasil pencarian Instagram, lengkap dengan tombol Follow khusus di Reels, alat penjadwalan konten, hingga sistem peringatan ketika konten dipakai ulang akun lain.
Dari sudut pandang bisnis, langkah ini agaknya logis. Meta selama ini hampir sepenuhnya bergantung pada pendapatan iklan, basis yang rentan terhadap siklus ekonomi dan perubahan regulasi privasi. Diversifikasi ke model subscription ibarat menanam tanaman kedua di ladang yang sama, dengan tanah yang sudah terbukti subur: basis pengguna miliaran orang di seluruh dunia.
Lantas mengapa Pinterest dan Snap ikut naik? Bisa jadi pasar membaca ini sebagai konfirmasi bahwa monetisasi platform media sosial berbasis subscription memang layak jalan, bukan sekadar eksperimen. Kalau raksasa seperti Meta berani pasang harga, artinya ada permintaan nyata yang sebelumnya belum digarap. Masuk akal, entah kebetulan atau tidak. Meski tentu ada jarak antara "Meta bisa" dan "Snap atau Pinterest juga bisa", jarak yang tidak kecil.
Bagi investor yang megang saham emiten teknologi atau reksa dana bertema digital economy, ini bukan sekadar fitur baru. Ini pergeseran model bisnis. Kalau berhasil, cara analis menghitung valuasi Meta dalam dua atau tiga tahun bisa berubah cukup drastis.