KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Saham Perbankan Jadi Incaran Asing Jika MSCI Beri...

Finansial

Saham Perbankan Jadi Incaran Asing Jika MSCI Beri Sentimen Positif

Tiga agenda besar dalam satu pekan, MSCI Market Accessibility Review, FTSE Rebalancing, dan MSCI Market Classification Review, membuat pelaku pasar menahan napas. Sektor perbankan disiapkan jadi pintu masuk pertama aliran dana asing jika hasilnya positif.

Asing Bakal Borong Saham Perbankan Jika Hasil Review MSCI dan FTSE Juni Ini Positif

Tiga agenda besar pasar modal dalam rentang kurang dari sepekan membuat IHSG bergerak di antara harapan dan kecemasan. MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni, FTSE Rebalancing pada 19 Juni, lalu MSCI Annual Market Classification Review pada 23-24 Juni 2026, semuanya... tunggu, bukan begitu. Hapus em dash.

Tiga agenda besar pasar modal dalam rentang kurang dari sepekan membuat IHSG terombang-ambing. Dimulai dari MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni, FTSE Rebalancing pada 19 Juni, dan MSCI Annual Market Classification Review pada 23-24 Juni 2026. Ketiganya berpotensi mengubah arah aliran dana asing ke bursa domestik secara cukup dramatis.

Sektor perbankan sudah disiapkan sebagai penerima manfaat utama. Investment Specialist KISI Sekuritas Ahmad Faris Mu'tashim menyebut saham-saham bank paling likuid di BEI akan jadi tujuan pertama investor global yang ingin menambah eksposur ke Indonesia. "Tentu yang pertama dituju adalah sektor perbankan sebagai saham yang paling likuid," ujar Faris. Dari sana, ia memperkirakan aliran dana akan bergerak perlahan ke sektor ritel, yang selama ini dipandang sebagai proxy dari cerita bonus demografi Indonesia.

Tapi Faris menahan diri untuk terlalu optimistis. Tren NPL yang merayap naik dan NIM yang cenderung stagnan membuatnya enggan menyebut big banks sebagai katalis IHSG dalam waktu dekat. "Melihat tren NPL yang naik dan NIM cenderung stagnan, kami melihat too early untuk bilang demikian, paling tidak perbaikan kinerja di semester 2 2026 menjadi katalis paling dekat," kata dia.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat IHSG ditutup melemah 0,55% ke level 6.220,74 pada Rabu lalu, setelah sempat menguat di sesi awal. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menunggu keputusan BI Rate. Konsensus memperkirakan kenaikan 25 bps menjadi 5,75%, meski para ekonom sendiri masih terpecah soal arahnya. Untuk hari ini, Phintraco memproyeksikan IHSG bergerak sideways cenderung melemah di kisaran 6.100 hingga 6.350. Rupiah pun ikut-ikutan luntur, melemah 0,21% ke Rp17.762 per dolar AS.

Soal dampak MSCI, ada tiga skenario yang beredar. Pertama, jika Indonesia dipertahankan di EM Index tapi pembekuan indeks tetap berlaku, dampaknya diperkirakan netral cenderung positif. Kedua, kalau MSCI justru menaikkan bobot Indonesia karena perbaikan aksesibilitas dan transparansi, itu bisa jadi bahan bakar rebound yang lumayan kuat. Skenario ketiga, yang paling bikin perut mulas: Indonesia turun ke Frontier Market. Faris mengestimasi outflow bisa tembus Rp200 triliun, datang bukan hanya dari investor asing, tapi juga dari manajer investasi lokal yang mengelola reksa dana indeks berbasis MSCI dan FTSE.

Rp200 triliun. Bukan angka main-main.

AUM yang mengacu pada indeks MSCI diperkirakan mencapai 250 miliar dolar AS, mayoritas dari passive fund. Kalau data ini bisa dipercaya, sifatnya yang pasif inilah yang justru paling berbahaya: begitu status berubah, arus keluarnya otomatis dan masif dalam hitungan hari. FTSE, sebaliknya, pengaruhnya relatif lebih terkikis karena tidak banyak institusi global dengan eksposur Indonesia yang menjadikannya benchmark utama.

Ada konteks yang lebih besar dari sekadar drama minggu ini. Indonesia sudah menghuni keranjang Emerging Market MSCI sejak 1989, artinya 37 tahun tanpa pernah mampu melompat ke Developed Market. Status index freeze yang dijatuhkan MSCI pada akhir Januari 2026 bukan hukuman mendadak. Ini akumulasi kelalaian otoritas yang mengabaikan peringatan soal perhitungan free float sejak September 2025, lalu meledak setelah memicu perombakan pucuk pimpinan BEI dan OJK.

Kabar baiknya, skenario downgrade instan bukan sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. MSCI punya mekanisme yang ketat: sebuah negara harus lebih dulu masuk daftar pantauan dan melewati masa konsultasi publik satu hingga dua tahun sebelum statusnya berubah. Kasus Rusia yang langsung dikeluarkan dari indeks pada 2022 terjadi karena sanksi internasional dan penutupan pasar secara sepihak. Kondisi yang berbeda jauh dari Indonesia saat ini.

Apakah itu berarti pasar sudah bisa bernapas lega? Agaknya belum sepenuhnya. Faris memproyeksikan IHSG bisa kembali terkoreksi ke area 5.300 jika hasil review MSCI mengecewakan, meski sebagian risiko itu kemungkinan sudah dipriced-in oleh pasar pekan lalu. Bagi investor ritel, pekan ini adalah pengingat telak bahwa pasar modal bukan hanya soal laba emiten, tapi juga soal bagaimana Indonesia dinilai di mata dunia.