Paradoks, mungkin itu kata yang paling tepat. Saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu justru melesat pada pagi perdagangan Jumat (29/5/2026), tepat di hari rebalancing MSCI Global Standard Index resmi berlaku, setelah berminggu-minggu dihajar tekanan jual akibat pengumuman delisting dari indeks tersebut.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) paling agresif bergerak. Saham ini menyentuh auto rejection atas (ARA) 25 persen ke level Rp3.300 per unit hanya dalam 26 menit pertama, dengan nilai transaksi sudah menembus Rp877 miliar dan 265,9 juta saham berpindah tangan. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyusul dengan kenaikan 24,75 persen ke Rp630 per unit, nyaris ARA juga.
Yang lain tak kalah sengit. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 18,97 persen ke Rp1.850, PT Petrosea Tbk (PTRO) terkerek 16,58 persen ke Rp4.360, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 11,26 persen ke Rp840, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut menguat 5 persen ke Rp1.995.
Rebound ini mencolok justru karena konteksnya. Sejak MSCI mengumumkan hasil review Mei 2026 pada 13 Mei lalu, saham-saham Grup Barito terseret cukup dalam. Enam emiten Indonesia dicoret dari MSCI Global Standard Index sekaligus: BREN, TPIA, CUAN, AMMN, DSSA, dan AMRT. Tidak ada satu pengganti pun dari Indonesia yang masuk. Bagi sentimen pasar domestik, sinyal itu agaknya cukup menyakitkan.
BRI Danareksa Sekuritas sudah memperingatkan lebih awal. Saham yang keluar dari indeks berpotensi menanggung gempuran jual dari rebalancing fund asing dan ETF berbasis MSCI, dengan volatilitas yang bakal memuncak menjelang akhir Mei. Persis yang terjadi.
Lantas kenapa justru terbang hari ini? Bisa jadi ini aksi beli oportunistik, pandangan bahwa tekanan jual sudah habis setelah rebalancing tuntas, dan harga sudah cukup "didiskon" untuk menarik minat masuk. Atau memang ada buying interest dari pihak tertentu yang memanfaatkan momentum. Entah kebetulan atau tidak, timing-nya sangat presisi.
Perubahan komposisi MSCI resmi efektif pada penutupan perdagangan hari ini, dengan implementasi penuh mulai 1 Juni 2026. Review berikutnya baru diumumkan 12 Agustus 2026 dan berlaku 1 September 2026. Tiga bulan jeda. Cukup waktu bagi investor untuk memutuskan: ini peluang nyata, atau sekadar dead cat bounce?