SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Saham Big Banks Terbang, IHSG Tancap Gas Jelang Re...

Bisnis

Saham Big Banks Terbang, IHSG Tancap Gas Jelang Rebalancing MSCI

Empat saham bank jumbo kompak menguat di sesi I perdagangan Senin, dengan BBRI memimpin lonjakan 4,26%. Di sisi lain, pelemahan rupiah bikin warga Lebak ramai-ramai jual emas perhiasan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pemicu Lonjakan Saham BBRI BBCA Cs - Halaman all

Sepanjang sesi I perdagangan Senin (25/5/2026), saham-saham perbankan kakap kompak tancap gas dan menjadi penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan yang bergerak ke zona hijau. Bukan reli kecil-kecilan.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin dengan kenaikan 4,26%, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menguat 3,39%. Dua bank pelat merah lainnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), masing-masing naik 2,43% dan 2,38%.

Dari data Stockbit Sekuritas, ketiganya memuncaki daftar net buy hari itu. BBCA paling banyak diborong dengan net buy Rp 218 miliar, BMRI dan BBRI masing-masing Rp 84 miliar dan Rp 82 miliar. Asing agaknya mulai mengakumulasi posisi.

Apa pemicunya? Salah satu faktor adalah respons pasar terhadap pengumuman FTSE Russell yang ternyata tidak seberbahaya yang ditakutkan sebagian pelaku pasar. Maybank Sekuritas mencatat hanya empat saham yang dikeluarkan dari indeks FTSE, DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA, tanpa ada nama-nama besar yang jadi korban.

Potensi outflow pun dinilai lebih kecil dari estimasi awal. Pasar langsung merespons positif.

Fokus investor kini bergeser ke rebalancing MSCI yang dijadwalkan 29 Mei 2026. Saham-saham big banks, yang masih bertengger di dalam indeks global tersebut, berpeluang mendapat aliran dana masuk ketika proses rebalancing berlangsung. Bisa jadi inilah yang sedang diantisipasi pasar sejak pagi.

Di sisi korporasi, BMRI punya agenda tersendiri hari ini. Perseroan membayarkan dividen final tahun buku 2025 senilai total Rp 35,14 triliun, atau Rp 376,95 per lembar saham, kepada pemegang saham yang tercatat per 12 Mei 2026. Dengan harga penutupan BMRI di level Rp 4.630 pada cum date 8 Mei lalu, yield dividen finalnya tercatat 8,14%. Cukup untuk bikin investor senyum-senyum.

Sementara pasar saham bersorak, ada cerita berbeda di Kabupaten Lebak, Banten. Di kawasan Pasar Tradisional Rangkasbitung, warga justru berbondong-bondong melepas perhiasan emas mereka. Aktivitas jual-beli emas di sana melonjak dalam dua pekan terakhir, dipicu tekanan ekonomi yang mulai terasa di level akar rumput seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Romi, pemilik salah satu toko emas di Rangkasbitung, membenarkan tren ini. "Sekarang kayaknya yang jual lebih banyak, walaupun belum terlalu signifikan. Mungkin karena kondisi rupiah lagi anjlok juga," ungkapnya. Harga beli emas perhiasan di tokonya hari itu berada di Rp 2,43 juta per gram, sementara harga jual di Rp 2,33 juta per gram.

Yang paling banyak dijual: emas 24 karat dan emas Singapura, atau yang biasa disebut emas muda. Salah satu penjual, Lia dari Kampung Papanggo, Kecamatan Rangkasbitung, terpaksa melepas perhiasannya seberat satu gram untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya. "Ini mah lagi kepepet aja. Biasanya suami saya ngasih," ceritanya.

Dua narasi yang berjalan bersamaan hari ini: institusi asing mengakumulasi saham bank jumbo sambil menunggu rebalancing MSCI, sementara ibu rumah tangga di Lebak menggadaikan cincin untuk biaya pendidikan. Entah kebetulan atau tidak, keduanya adalah cermin retak dari tekanan nilai tukar rupiah yang sama.