Kamis siang di Bursa Efek Indonesia terasa berat. IHSG anjlok 3,48 persen atau 206,81 poin ke level 5.734,26 pada penutupan sesi pertama, 4 Juni 2026. Nilai transaksi meledak menembus Rp12,18 triliun, pertanda ada aksi besar-besaran yang sedang terjadi di lantai bursa.
Agaknya membingungkan sebagian pelaku pasar: investor asing sebetulnya masih membukukan net buy tipis Rp179 miliar secara total. Foreign buy tercatat masif di angka Rp6,12 triliun, foreign sell menembus Rp5,94 triliun. Asing bukan sepenuhnya kabur. Mereka sedang rotasi besar-besaran, membuang satu kelompok saham sambil memborong yang lain.
Kelompok yang dibuang itu jelas: perbankan. BBCA disikat Rp278,62 miliar oleh investor asing sepanjang sesi I, harga sahamnya tergerus 3,62 persen ke Rp5.325. BBRI dilepas Rp211,24 miliar dan amblas 3,79 persen ke Rp2.790. BMRI dan BBNI masing-masing kena jual bersih Rp72,21 miliar dan Rp59,08 miliar, dengan koreksi 2,47 persen dan 5,32 persen. BBNI yang terparah.
Di luar big four banking, saham konglomerasi juga kena getahnya. DSSA milik grup Sinar Mas dilepas Rp85,71 miliar. ASII kena Rp33,86 miliar, BREN milik Prajogo Pangestu terseret Rp30,80 miliar. MAPI dan ANTM masing-masing diumbar Rp17,62 miliar dan Rp14,72 miliar.
Rotasi. Itu satu kata yang merangkum sesi ini. Karena di sisi lain, dana justru deras mengalir ke petrokimia dan komoditas. TPIA memimpin daftar net buy asing dengan Rp135,04 miliar. MDKA di urutan kedua, meraup Rp77,36 miliar. Emiten batu bara dan tambang kebanjiran dana: DEWA (Rp61,98 miliar), BIPI (Rp46,20 miliar), ADRO (Rp41,73 miliar), AMMN (Rp38,62 miliar), hingga TINS dan CUAN yang masing-masing mengantongi Rp35,93 miliar dan Rp28,07 miliar.
Pola ini punya latar. Dua hari sebelumnya, pada perdagangan perdana Juni 2026, Selasa (2/6), IHSG sempat menguat 1,11 persen ke 6.195,43 meski dibebani net sell asing Rp1,39 triliun. Tapi tekanan fundamental sudah terakumulasi jauh sebelum itu: surplus neraca dagang April 2026 hanya US$89,1 juta, terendah dalam enam tahun. Kalau data itu bisa dipercaya sebagai sinyal, bisa jadi angka itulah yang menjadi pemantik kepanikan lebih dalam hari ini.
IHSG bahkan sempat menyentuh titik nadir 5.644,23 sesaat setelah bel pembukaan berbunyi, sebelum sedikit rebound ke 5.734. UBS Sekuritas Indonesia mendominasi nilai transaksi sesi I dengan Rp4,76 triliun, disusul Mandiri Sekuritas Rp3,4 triliun dan Stockbit Sekuritas Rp2,34 triliun.
Bagi investor ritel yang nyangkut di saham-saham bank, hari ini jadi pengingat keras. Ketika asing bergerak dalam skala Rp6 triliun lebih dalam satu sesi, tidak ada sektor yang benar-benar aman, kecuali yang sedang mereka buru.