SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rusia Kuras Cadangan Emas Terbesar dalam 24 Tahun...

Bisnis

Rusia Kuras Cadangan Emas Terbesar dalam 24 Tahun demi Tambal Defisit

Bank Sentral Rusia melepas 27,9 ton emas sepanjang Januari-April 2026, penurunan empat bulanan terbesar sejak 2002, di tengah tekanan fiskal perang Ukraina dan lesunya pendapatan energi.

Rusia Jual Emas Besar-besaran di Tengah Tekanan Anggaran Perang

Untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, Rusia berbalik arah. Negara yang selama dua dekade lebih dikenal sebagai salah satu pembeli emas terbesar di dunia kini justru menguras cadangan logam mulianya dengan laju yang belum pernah tercatat sejak 2002.

Per 1 Mei 2026, cadangan emas Bank Sentral Rusia (CBR) menyusut ke 73,9 juta ons troi, level terendah sejak Maret 2022. Sepanjang Januari-April tahun ini, Moskow melepas 27,9 ton emas ke pasar, termasuk sekitar 200.000 ons hanya dalam bulan April. Penurunan empat bulanan ini tercatat paling parah dalam 24 tahun terakhir, membuka babak baru dalam strategi moneter Kremlin yang selama ini bertumpu pada akumulasi logam mulia sebagai pelindung dari dominasi dolar AS.

Akar masalahnya tidak terlalu sulit dibaca. Defisit anggaran federal Rusia membengkak ke 4,6 triliun rubel, atau sekitar USD 51 miliar, hingga akhir kuartal I-2026. Belanja militer yang tak berhenti naik berbenturan keras dengan pendapatan energi yang sedang loyo. Kombinasi mematikan itu memaksa otoritas moneter Moskow mencari jalan pintas. Natalia Milchakova, Kepala Analis Freedom Finance Global, menyatakan bahwa tanpa kompensasi sebagian dari bank sentral ketika penerimaan minyak dan gas minim, defisit bisa menembus 5 triliun rubel.

Penjualan emas ini tidak terjadi di pasar terbuka. CBR menjual kepada pembeli domestik, termasuk bank-bank komersial, perusahaan negara, dan institusi investasi, sejak November 2025. Hasil penjualan sebagian besar kemudian dikonversi menjadi yuan China, mengingat akses Rusia ke sistem keuangan Barat masih tertutup rapat oleh sanksi. Ekspor emas Rusia ke China meledak sepanjang 2025: 25,3 ton dikirimkan, sembilan kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi USD 3,29 miliar.

Milchakova juga menyebut bahwa aksi jual ini agaknya bukan semata urusan fiskal. Sebagian hasil likuidasi dipakai memperkuat cadangan devisa dalam bentuk yuan, guna menutup kekurangan valuta asing yang timbul dari lesunya kinerja ekspor di awal tahun.

Sejarah akumulasi emas Rusia memang panjang. Antara 2002 dan 2025, negara itu memborong lebih dari 1.900 ton emas, termasuk lonjakan masif 1.200 ton pada periode 2014-2019 ketika sanksi Barat pertama kali dijatuhkan pasca-aneksasi Krimea. Sejak 2020, pembelian bersih hanya menyentuh 55,4 ton. Sinyal bahwa pergeseran strategi sebenarnya sudah terbaca jauh sebelum aksi jual besar ini mencuat ke permukaan.

Ironisnya, selera masyarakat dan korporasi Rusia terhadap emas justru meledak. Volume perdagangan emas di Moscow Exchange pada April 2026 melonjak lebih dari 350% secara tahunan menjadi 42,6 ton, terdiri dari 28,6 ton transaksi swap dan 14 ton perdagangan spot. Dalam denominasi rubel, nilai perputaran uangnya melesat hampir 500% menjadi 534,4 miliar rubel, setara sekitar USD 7,1 miliar. Bukan angka kecil.

Analis Finam, Nikolai Dudchenko, membaca fenomena ini sebagai bagian dari tren lebih luas. Banyak bank sentral negara berkembang, kata dia, kini mengoptimalkan cadangan emas bukan sebagai aset jangka panjang, melainkan sebagai sumber likuiditas darurat untuk menutup anggaran pertahanan, membayar tagihan impor energi, dan menstabilkan nilai tukar.

National Wealth Fund (NWF) Rusia turut tergerus. Sebelum perang, dana tersebut menyimpan sekitar 405,7 ton emas. Hingga November 2025, lebih dari 57 persen atau 232,6 ton sudah dilikuidasi. Total aset likuid NWF amblas dari USD 113,5 miliar sebelum invasi Ukraina menjadi sekitar USD 51,6 miliar. Separuhnya, lenyap.

Satu hal yang sedikit menghibur bagi Kremlin: kendati volume fisik cadangan menyusut, nilai totalnya justru naik berkat reli harga emas global. Pada Januari lalu, nilai buku cadangan emas Rusia tercatat USD 402,7 miliar setelah harga emas sempat menyentuh rekor USD 5.608,35 per ons troi. Cadangan yang secara kuantitas lebih kecil, tapi secara nilai lebih mahal. Persoalannya, kalau data ini bisa dipercaya sebagai penghibur, Rusia tetap butuh uang tunai, bukan valuasi di atas kertas.