Dolar AS kini bertengger di Rp17.410, level terlemah yang pernah dialami rupiah. Bos Bank Indonesia minta publik tidak panik dulu.
Usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa malam (5/5/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo tampil bersama jajaran Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dan menyampaikan satu poin yang langsung menarik perhatian: rupiah saat ini undervalued. Terlalu murah dibanding nilai yang seharusnya.
"Nilai tukar sekarang itu undervalued. Undervalued dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi 5,11%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," jelas Perry di Istana Negara.
Kalau fundamentalnya sekuat itu, kenapa rupiah bisa selemah ini? Perry menyebut dua biang kerok.
Pertama, faktor global yang memang sedang tidak bersahabat: harga minyak tinggi, suku bunga The Fed masih bertahan di level ketat, yield US Treasury merangkak naik, dolar AS menguat hampir ke semua mata uang. Capital outflow dari emerging market, termasuk Indonesia, ikut memperparah tekanan.
Kedua, faktor musiman yang agaknya sering luput dari perhatian. April, Mei, Juni secara historis memang musim permintaan dolar melonjak karena tiga kebutuhan sekaligus: repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, dan biaya keberangkatan jemaah haji. Tekanan seperti ini bukan anomali baru, tapi tahun ini bertabrakan keras dengan momentum global yang buruk.
Tujuh langkah, sekarang.
Yang paling mencuri perhatian pasar adalah pembatasan pembelian dolar tanpa underlying. Sebelumnya batasnya US$100.000 per orang per bulan, sudah dipangkas ke US$50.000, dan sedang dipersiapkan turun lagi ke US$25.000. Siapapun yang mau membeli dolar di atas angka itu wajib punya kepentingan nyata, bukan sekadar spekulasi. "Sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying," kata Perry, seraya menyebut langkah ini dikoordinasikan langsung dengan KSSK.
Selain itu, BI menggencarkan intervensi di pasar valas, baik secara tunai maupun lewat domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri, dan NDF di pasar offshore Hong Kong, Singapura, London, hingga New York. "Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah itu," kata Perry.
Dari sisi portofolio, BI dan Kementerian Keuangan sepakat mendorong instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar menarik lebih banyak inflow asing, guna mengkompensasi keluarnya dana dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham yang year-to-date masih mencatat outflow. Koordinasi fiskal-moneter juga tercermin dari pembelian SBN di pasar sekunder oleh BI yang sudah mencapai Rp123,1 triliun sejak awal tahun.
Langkah lain menyentuh sisi likuiditas perbankan. Perry menyebut kondisi ini masih terjaga, tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1%. BI juga membuka pintu bagi bank-bank domestik untuk ikut berjualan di pasar NDF offshore, menambah pasokan dan meredam tekanan nilai tukar dari luar negeri.
Paling terakhir, dan bisa jadi paling terasa bagi para pelaku industri: BI menurunkan pengawas langsung ke bank-bank dan korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya terbilang agresif, berkoordinasi dengan OJK di bawah komando Friderica Widyasari.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terdengar lebih santai dari yang lain. Memperbaiki kondisi ini "enggak sulit" jika semua otoritas bergerak serempak, begitu klaimnya. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, masih perlu dibuktikan oleh pergerakan kurs di sesi Rabu pagi.
Rupiah undervalued. BI punya tujuh jurus. Pasar menunggu.