KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Tutup Pekan di Rp17.693, Pasar Nantikan Inf...

Bisnis

Rupiah Tutup Pekan di Rp17.693, Pasar Nantikan Inflasi dan Pidato Perdana Warsh

Rupiah menguat 51 poin pada Jumat (28/8) ke level Rp17.693 per dolar AS, namun secara mingguan hampir stagnan. Pekan depan, pasar menantikan data inflasi domestik dan pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh.

Rupiah Sepekan Bertahan di Rp 17.693, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Sinyal The Fed

Rupiah ditutup di Rp17.693 per dolar AS pada perdagangan Jumat (28/8/2026), menguat 51 poin atau 0,29% dari posisi sehari sebelumnya di Rp17.744. Penguatan tipis itu cukup untuk membuat mata uang Garuda tampil lebih baik dari sebagian besar tetangganya di kawasan.

Secara mingguan, rupiah praktis jalan di tempat, hanya menguat 0,01% dari pekan sebelumnya. Kurs JISDOR Bank Indonesia pun bergerak serupa, menguat tipis ke Rp17.703 dari Rp17.705 sepekan lalu. Konsolidasi, bukan tren.

Di level regional, won Korea Selatan jadi bintang hari itu dengan lonjakan 0,70% terhadap dolar AS. Rupiah masuk kelompok moderat bersama dolar Taiwan yang naik 0,25% dan rupee India yang menguat 0,17%. Di ujung berlawanan, peso Filipina amblas 0,66%, jauh meninggalkan baht Thailand yang melemah 0,17% dan yen Jepang yang tertekan 0,08%.

Apa yang menggerakkan rupiah hari Jumat? Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut sentimen positif datang dari dua arah sekaligus: aksi demonstrasi di berbagai wilayah berlangsung relatif aman dan terkendali, ditambah respons pasar yang positif atas ketegasan Gubernur Bank Indonesia terpilih Destry Damayanti yang berkomitmen menjaga independensi lembaga serta stabilitas nilai tukar. Dua sinyal itu cukup untuk menahan tekanan jual lebih lanjut.

Tapi jangan terlalu optimistis dulu. Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures mengingatkan bahwa pelaku pasar cenderung menahan diri sebelum angka inflasi resmi keluar. "Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi," tulisnya. Ia juga menyoroti potensi tekanan dari sisi neraca dagang: "Serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal."

Data inflasi memang jadi penantian utama pekan depan. Bagi Bank Indonesia, angka ini krusial sebagai pijakan arah suku bunga. Inflasi yang terkendali membuka ruang pelonggaran moneter, yang bisa jadi katalis tambahan bagi rupiah. Kalau angkanya mengejutkan ke atas, agaknya pasar akan kembali gelisah. Pertanyaannya, berapa besar toleransi investor terhadap kejutan angka BPS?

Dua faktor eksternal siap bikin volatilitas naik. Ketegangan geopolitik AS-Iran yang belum mereda masih membayangi sentimen global. Dan yang paling ditunggu: pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Pasar global akan membedah setiap kata Warsh untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS. Belum lagi rilis data Non-Farm Payrolls Amerika, yang biasanya cukup untuk menggoyang pasar valas Asia dalam hitungan menit.

Proyeksi analis untuk pekan depan terbagi dalam rentang yang lumayan lebar. Doo Financial Futures mematok kisaran Rp17.600-Rp17.850, Ibrahim memasang range lebih lebar di Rp17.600-Rp17.900. Selisih batas atas itu, Rp50, bukan angka kecil kalau kamu pegang posisi besar.

Per pagi ini (29/8), kurs e-rate BCA tercatat di Rp17.680 untuk beli dan Rp17.780 untuk jual. BRI mematok Rp17.608 beli dan Rp17.759 jual. Bank Mandiri menetapkan special rate di Rp17.730 beli dan Rp17.760 jual, sedangkan BNI di Rp17.640 beli dan Rp17.740 jual untuk special rates.

Rupiah sudah sepekan bergerak dalam kisaran sempit. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali pasar sedang menunggu data besar, konsolidasi seperti ini sering jadi tenang sebelum badai, atau sebelum reli. Tinggal tunggu angka inflasi dan apa yang keluar dari mulut Warsh.