RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Terseret Tarif Impor AS, Parkir di Rp 17.72...

Finansial

Rupiah Terseret Tarif Impor AS, Parkir di Rp 17.725 per Dolar

Mata uang Garuda melemah tipis 0,09% ke Rp 17.725 per dolar AS pada Selasa sore, ditekan rencana tarif impor baru AS terhadap produk Indonesia yang bisa menembus 18%.

Trump Siapkan Tarif Impor Baru untuk RI, Rupiah Melemah ke Rp 17.725 per Dollar AS

Rupiah ditutup di Rp 17.725 per dolar AS pada perdagangan Selasa (16/6/2026), terdepresiasi 16 poin atau 0,09% dari posisi penutupan Senin di Rp 17.709. Adapun kurs Jisdor Bank Indonesia justru sempat menguat 0,33% ke Rp 17.921 pada hari sebelumnya. Dua pergerakan berlawanan yang mencerminkan betapa kompleksnya hari itu buat pasar.

Pemicu utama pelemahan bukan dari dalam negeri. Pasar bereaksi terhadap rencana Washington mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk Indonesia berbasis Pasal 301 Trade Act 1974, yang dijadwalkan berlaku bertahap mulai 24 Juli 2026. Ini bukan tarif pertama: USTR sebelumnya sudah menetapkan forced labor tariff sebesar 10% terhadap Indonesia dan lima negara lainnya, ditambah tarif global 10% berdasarkan Pasal 122 yang aktif sejak Februari 2026. Setelah investigasi soal excess capacity rampung, total tarif terhadap produk Indonesia diperkirakan bisa menembus 18%. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa AS bukan pasar sembarangan bagi Indonesia. "Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting. AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia," ujar Ibrahim. Ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada Januari-Juni 2025 mencapai 14,79 miliar dolar AS, sekitar 11,52% dari total ekspor nonmigas nasional, didominasi mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta aksesori. Sektor-sektor ini paling rentan kalau tarif baru benar-benar diterapkan penuh.

Dampaknya, kata Ibrahim, tidak berhenti di angka ekspor. Utilisasi pabrik bisa turun, investasi bisa tertahan, serapan tenaga kerja manufaktur ikut terancam. Tiga tekanan sekaligus. Skenario yang, kalau terjadi bersamaan, agaknya cukup untuk membuat para perencana ekonomi di Jakarta kehilangan selera makan malam.

Kabar dari Timur Tengah sedikit meredam kepanikan. Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, yang langsung mengirim harga minyak mentah Brent ke level terendah dalam tiga bulan terakhir dan menghidupkan selera risiko di pasar ekuitas global. "Investor menunggu rincian mengenai waktu implementasi perjanjian tersebut karena gencatan senjata permanen masih perlu dinegosiasikan," jelas Ibrahim. Euforianya, kalau data ini bisa dipercaya, masih setengah hati.

Di panggung bank sentral, BOJ menaikkan suku bunga 25 basis poin ke level 1%, tertinggi dalam 31 tahun. Langkah yang sudah lama diantisipasi pasar ini menegaskan arah normalisasi moneter Jepang. Bank Sentral Australia memilih jalan berbeda, mempertahankan suku bunga di 4,35%. Dua kebijakan kontras dalam satu pekan. Fokus pasar kini tertuju pada The Fed dan Bank of England yang akan mengumumkan keputusan kebijakan pekan ini, termasuk pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinantikan sebagai petunjuk arah suku bunga AS.

Data inflasi yang masih panas membuat pasar mulai memangkas ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini. Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (17/6) bergerak dalam rentang Rp 17.690 sampai Rp 17.728 per dolar AS. Rentang yang sempit, tapi bisa berubah drastis begitu Warsh mulai bicara.