SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Terseret Eskalasi Timur Tengah, Dolar Makin...

Bisnis

Rupiah Terseret Eskalasi Timur Tengah, Dolar Makin Digdaya

Rupiah melemah ke level Rp 18.109 per dolar AS di pasar spot pada Senin (13/7), tertekan eskalasi geopolitik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah.

Rupiah Masih Akan Tertekan Eskalasi Perang pada Selasa (14/7)

Rupiah dibuka lesu Senin (13/7) dan tidak pernah pulih. Penutupan pasar spot di Rp 18.109 per dolar AS mencerminkan pelemahan 0,24% dari sesi sebelumnya. Jisdor Bank Indonesia mencatat angka lebih dalam: Rp 18.131 per dolar AS, terkoreksi 0,34% secara harian. Selisih kecil antara dua referensi itu justru menceritakan banyak hal, tekanan datang konsisten dari pagi sampai penutupan.

Biang keladinya bukan dari dalam negeri. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memompa kekhawatiran pasar global, mendorong harga minyak mentah naik dan memicu pelarian ke aset safe haven, terutama dolar AS. Ketika greenback menguat secara broad-based, mata uang emerging market seperti rupiah hampir pasti kena imbasnya, entah fundamental domestiknya sekuat apa pun.

Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menyebut sentimen geopolitik sebagai pemicu utama tekanan pada rupiah hari ini. Lonjakan harga minyak yang menyertai eskalasi konflik justru memperumit posisi Indonesia sebagai net importir energi. Implikasinya bisa merembet ke neraca perdagangan dan current account, dua variabel yang agaknya akan terus diawasi pasar dalam beberapa pekan ini.

Dengan tekanan yang belum mereda, rupiah kemungkinan masih bergerak defensif pada Selasa (14/7). Pasar akan memantau apakah tensi geopolitik makin memanas atau ada sinyal deeskalasi yang bisa sedikit melegakan. Pertanyaan yang lebih relevan: di level mana rupiah bisa menemukan lantai yang kokoh, dan apakah BI akan turun tangan jika volatilitas makin liar.