Rupiah kembali tergelincir ke bawah level psikologis Rp18.000 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7), melemah 34 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.980 menjadi Rp18.014 per dolar AS. Kurs JISDOR Bank Indonesia ikut terseret, bertengger di Rp18.005 dari sebelumnya Rp17.988.
Dua tekanan besar menghantam rupiah sekaligus hari ini. Yang pertama datang dari luar, dan nadanya cukup serius.
Komando Pusat AS mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, dengan tujuan yang mereka sebut sebagai memberikan "biaya berat" atas aksi Teheran yang menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Bukan sekadar drama geopolitik biasa. Selat Hormuz adalah urat nadi energi global, dan ancaman gangguan di jalur itu langsung memicu kekhawatiran pasokan minyak di Timur Tengah.
Timingnya juga tidak menguntungkan. Serangan ini terjadi tak lama setelah AS mencabut konsesi penting yang selama ini memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional, sebuah langkah yang dengan sendirinya sudah memperketat suplai minyak global. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai prospek pembicaraan damai kini tampak makin tidak pasti. "Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa pembicaraan perdamaian antara kedua negara kini tampak tidak pasti.
Dari domestik, ada sinyal yang agaknya luput dari radar banyak pelaku pasar. Hasil survei kepercayaan konsumen Indonesia untuk Juni mencatat penurunan cukup tajam. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut angka itu sebagai salah satu faktor yang ikut membebani rupiah. Cukup untuk bikin pasar gelisah.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin ke level 4,525 persen, membuat dolar makin atraktif di mata investor global. Pasar uang memang skeptis soal kenaikan suku bunga The Fed di Juli, tapi untuk September, probabilitasnya sudah mendekati 60 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Ibrahim menambahkan, para pedagang kini memasang mata ke notulen rapat FOMC Juni yang dijadwalkan rilis Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, berharap mendapat gambaran lebih jelas soal arah kebijakan bank sentral AS.
Kalau dua sentimen ini bergerak bersamaan dan notulen FOMC ternyata lebih hawkish dari ekspektasi, rupiah punya alasan lebih untuk tertekan dalam beberapa sesi mendatang. Pertanyaannya bukan lagi apakah Rp18.000 akan tertembus, tapi seberapa lama level itu bisa bertahan.