JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Tembus Rp17.410, Rekor Terlemah Sepanjang S...

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.410, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Nilai tukar rupiah terus longsor ke rekor terendah baru, menyentuh Rp17.410 per dolar AS pada Selasa pagi, sehari setelah sempat menembus Rp17.394 di pasar spot. Surplus dagang Maret yang mencapai US$3,32 miliar nyaris tak berpengaruh.

Rp17.410 per dolar AS. Bukan angka biasa.

Selasa pagi (5/5), mata uang Garuda kembali tergelincir, melemah 17 poin atau 0,10 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Sehari sebelumnya, rupiah sudah lebih dulu mencetak rekor ketika tergerus Rp57 atau 0,33 persen ke Rp17.394 per dolar AS di pasar spot, level paling lemah sepanjang sejarah. Kurs Jisdor hari itu sedikit lebih baik: menguat tipis Rp10 ke Rp17.368, tapi tidak banyak menghibur.

Yang bikin dahi berkerut, surplus neraca perdagangan Maret 2026 sebesar US$3,32 miliar, tertinggi dalam enam bulan terakhir, sama sekali tidak mampu jadi rem. Ekspor turun 3,1% secara tahunan menjadi US$22,53 miliar, sementara impor justru naik 1,51% ke US$19,20 miliar. Ada sisi lain dari pelemahan ini yang sering luput: barang-barang Indonesia kian murah di mata pembeli asing, yang secara teori seharusnya mendorong ekspor. Tapi teori dan kenyataan, seperti biasa, jarang berjalan beriringan.

Di kawasan Asia, rupiah bukan satu-satunya yang terkapar. Peso Filipina tergerus 0,21 persen, ringgit Malaysia amblas 0,18 persen. Sejumlah tetangga justru melesat: yuan China naik 0,16 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,20 persen, yen Jepang dan dolar Singapura ikut menguat tipis. Pola ini mengisyaratkan tekanan bukan semata cerita regional. Ada faktor domestik yang turut bermain.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai salah satu pemicu utama, yang mendorong dolar AS kembali perkasa. "Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons eskalasi di Timur Tengah. Pelemahan diperkirakan akan terbatas, dengan investor menantikan data PDB Q1 Indonesia yang akan dirilis siang ini," katanya. Lukman mematok rentang pergerakan hari ini di Rp17.350 hingga Rp17.450.

Data PDB kuartal I itulah yang kini jadi satu-satunya kartu harapan pelaku pasar. Kalau angkanya cukup solid, rupiah mungkin bisa sedikit bernapas. Atau tidak, dan tekanan berlanjut.

Bayangan 1998 mulai dibisikkan di beberapa kalangan. Para ekonom sudah berkali-kali mengingatkan bahwa konteks makro Indonesia hari ini berbeda jauh dari krisis dua dekade lalu: fundamental lebih kokoh, cadangan devisa masih terjaga, sistem perbankan tidak ringkih seperti dulu. Tapi pasar tidak selalu bergerak berdasarkan fundamental. Pasar bergerak berdasarkan persepsi, dan persepsi saat ini sedang tidak ramah terhadap aset-aset emerging market. Entah kebetulan atau tidak, rentang pergerakan Rp17.350 hingga Rp17.450 dalam sehari itu, kalau dipikir-pikir, bukan angka kecil.