JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Tembus Rp17.400, Bos BI Cuma Senyum

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.400, Bos BI Cuma Senyum

Di tengah tekanan rupiah yang makin dalam, Gubernur BI Perry Warjiyo memilih diam saat dihujani pertanyaan soal kurs. Pemerintah tegas bantah tuduhan manipulasi mata uang dari AS.

Rupiah menyentuh Rp17.400 per dolar AS. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, usai rapat 1,5 jam di Kantor Kemenko Perekonomian, hanya tersenyum saat wartawan berebut melempar pertanyaan soal pelemahan mata uang Garuda itu.

Bukan sekali dua kali. Setiap pertanyaan dijawab "terima kasih", diulang terus sampai Perry masuk mobil dinas dan meninggalkan kawasan. Pasar mencatat gestur itu.

Rapat siang tadi, Selasa (5/5), mempertemukan Perry dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Agendanya, secara resmi, pembahasan pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali. Tapi dengan rupiah di level segitu, wajar kalau publik penasaran apa lagi yang dibicarakan selama 90 menit di ruangan itu.

Beberapa hari sebelumnya, tekanan sudah kelihatan. Data Bloomberg per 28 April mencatat dolar AS di Rp17.239, menguat 28 poin atau 0,16% dalam sehari. Pelemahan year-to-date rupiah tercatat 3,54%, angka yang, menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, masih "sejalan dengan kawasan."

Sejalan kawasan, memang. Dolar menguat terhadap yen Jepang 0,07%, dolar Australia 0,10%, dolar Singapura 0,05%, plus yuan, pound, dan euro ikut tergerus. Rupiah bukan satu-satunya korban.

Tapi tekanan eksternal itu rupanya tidak cukup untuk meredam sorotan Washington. AS memang tengah mengincar beberapa negara Asia atas dugaan currency manipulation. Airlangga langsung menangkis: Indonesia tidak termasuk.

"Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut. Jadi ini yang terus kita jaga," tegasnya di acara Roundtable Menakar Denyut Ekonomi di Tengah Gejolak Global, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Pernyataan itu agaknya lebih ditujukan ke pasar internasional ketimbang domestik. Framing-nya jelas: Indonesia bukan manipulator, melainkan korban kondisi global yang memang sedang ganas. "Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan," ujar Airlangga, kurang lebih: pemerintah memilih adaptif, bukan konfrontatif.

Rupiah sempat menyentuh Rp17.300 di puncak ketidakpastian global sebelum merayap ke Rp17.400 dalam perdagangan terkini. Bukan angka yang nyaman, terutama bagi importir dan emiten dengan utang dolar yang belum di-hedge.

Koordinasi pemerintah dan BI diklaim terus berjalan. Tapi dengan gubernurnya memilih senyum ketimbang pernyataan, sulit tidak bertanya-tanya: seberapa dalam ruang gerak BI untuk intervensi, dan sampai level berapa rupiah akan dibiarkan hanyut mengikuti arus?