Rupiah kian tertekan. Pada penutupan pasar spot Jumat (29/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp17.881 per dolar AS, melemah 0,2 persen dalam sehari dan mencatat penurunan 7,17 persen sepanjang enam bulan terakhir. Level ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, nyaris menembus batas psikologis Rp18.000 yang selama ini dihindari pelaku pasar.
Bagi investor yang memegang aset berbasis rupiah, terutama obligasi negara, pelemahan sedalam ini bukan angka abstrak. Ancaman capital loss sangat nyata.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara soal ini di Wisma Danantara, Minggu (31/5/2026). Ia meyakini tekanan terhadap rupiah akan reda dalam dua hingga tiga bulan, mengacu pada sinyal positif dari perkembangan hubungan geopolitik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel. "Kalau melihat berbagai pemberitaan internasional, ada indikasi bahwa Amerika Serikat, Iran, dan Israel hampir mencapai kesepakatan. Dengan kondisi keamanan dan situasi global yang diperkirakan membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan berakhir," ujar Purbaya.
Optimisme Purbaya bertumpu pada satu asumsi besar: perbaikan kondisi geopolitik akan memulihkan selera risiko investor global, yang ujungnya mengalirkan kembali modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Masuk akal, tapi masih perlu dibuktikan.
Soal pasar obligasi domestik, pemerintah mengaku terus berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia, dengan tujuan meredam potensi capital loss investor asing yang memegang surat utang negara. "Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan bank sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Salah satu tujuannya adalah agar investor asing yang memiliki obligasi domestik tidak mengalami capital loss yang terlalu dalam akibat gejolak pasar," kata Purbaya.
Fundamental ekonomi Indonesia, kalau data ini bisa dipercaya, sebetulnya tidak jelek. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, mengungguli Malaysia (5,3 persen) dan China (5 persen). Program makan bergizi gratis disebut sebagai salah satu penopang konsumsi domestik. Ibarat pedang bermata dua: ekonomi riil tumbuh kencang, tapi pasar keuangan tetap bergolak karena tekanan eksternal belum mereda.
Pertanyaannya sederhana: apakah pasar cukup sabar menunggu sambil rupiah terus bergerak di tepi jurang Rp18.000?