JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Menguat Empat Hari Beruntun, PPI AS Jadi Ka...

Bisnis

Rupiah Menguat Empat Hari Beruntun, PPI AS Jadi Katalis

Rupiah membalikkan tren pelemahan tiga pekan dengan penguatan 0,80% dalam sepekan, ditopang data PPI Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi dan keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia.

Rupiah menguat seiring PPI AS lebih rendah dari perkiraan - ANTARA News Ambon, Maluku

Empat hari perdagangan berturut-turut, rupiah tidak mau kalah. Jumat (17/7/2026), kurs spot rupiah menguat Rp65 atau 0,36% ke level Rp17.921 per dolar AS, sementara kurs Jisdor naik Rp97 atau 0,54% menjadi Rp17.944. Dalam sepekan, rupiah sudah mengakumulasi penguatan 0,80% dari posisi Rp18.065 pada Jumat pekan lalu, angka yang membalikkan tekanan tiga minggu beruntun.

Katalis utamanya datang dari Washington. Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat Juni 2026 ternyata turun, kejadian pertama dalam hampir setahun, didorong melorotnya biaya energi. Angka ini meleset di bawah ekspektasi pasar, dan pelaku pasar langsung memaknainya sebagai sinyal bahwa tekanan inflasi AS terus mereda. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyebut data tersebut "memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di AS terus mereda", sebuah pembacaan yang pada gilirannya menggerus dolar secara lebih luas.

Dolar AS memang sedang tidak perkasa. Terhadap euro greenback melemah 0,04%, terhadap poundsterling turun 0,10%, dan terhadap dolar Australia tergerus 0,20%. Indeks dolar hanya naik tipis 0,02% ke 100,78. Tidak cukup kuat untuk menahan arus balik ke aset emerging market. Rupiah, bersama rupee India dan peso Filipina yang masing-masing menguat 0,06%, masuk kategori langka: mata uang Asia yang bisa bertahan ketika won Korea amblas 0,43%, ringgit Malaysia tergerus 0,41%, dan baht Thailand melemah 0,10%.

Satu faktor yang agaknya belum banyak diperhatikan pasar ritel adalah keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat dan prospek stabil untuk Indonesia. Bukan berita besar di permukaan. Tapi konfirmasi rating semacam ini, apalagi datang saat ketidakpastian global masih tinggi, cukup untuk menahan kepanikan jual aset rupiah.

Ganjalan geopolitik tetap ada. Iran melancarkan serangan terhadap kapal tanker AS di dekat terminal ekspor minyaknya, dibalas dengan serangan AS ke aset militer Iran, lalu Iran membalasnya lagi dengan rudal ke pangkalan AS di Kuwait dan Yordania. Eskalasi semacam ini biasanya bikin pasar nervous, mendorong pelarian ke safe haven seperti dolar dan yen. Kali ini, data PPI yang jinak tampaknya lebih dominan menggerakkan sentimen. Entah kebetulan atau tidak, pasar memilih untuk tidak panik.

Data Retail Sales AS untuk Juni juga masuk radar. Tumbuh 0,2% month on month, jauh melambat dari 1,0% bulan sebelumnya yang direvisi naik. Sejalan ekspektasi. Pasar menelannya dengan tenang.

Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.975 hingga Rp18.100 untuk sesi berikutnya, rentang yang mencerminkan optimisme hati-hati. Bagi investor yang sempat nyangkut saat rupiah berkutat di kisaran Rp18.000-an dalam tiga pekan terakhir, penguatan ini bak gayung bersambut. Pertanyaannya tinggal satu: apakah momentum ini cukup tahan banting kalau ketegangan Timur Tengah terus meruncing pekan depan?