Empat hari berturut-turut rupiah tidak mampu bangkit. Kurs spot ditutup melemah Rp10 atau 0,06% ke level Rp17.804 per dolar AS pada Jumat (19/6), setelah pada sesi pagi sempat menyentuh Rp17.845, turun 51 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.794. Dua angka di dua jendela waktu yang sama, dan keduanya menunjuk ke arah yang sama: bawah.
Sumber tekanannya tidak sulit dilacak. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini meninggalkan satu pesan yang cukup keras bagi pasar negara berkembang: The Fed belum selesai. Inflasi AS masih bertengger di 4,2 persen, jauh dari target 2 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh mempertegas posisi itu dengan menyatakan target 2 persen adalah tujuan jangka panjang yang tak boleh ditinjau ulang sebelum bank sentral benar-benar berhasil mencapainya. Bukan kalimat yang memberi ruang interpretasi.
Pelaku pasar valas, agaknya, sudah merespons lebih agresif dari yang terlihat di permukaan. Taruhan opsi untuk penguatan dolar terus meningkat. Indeks dolar, meski terkoreksi tipis 0,07% ke 100,78, masih betah di atas level psikologis 100 selama tiga hari beruntun. Rupiah bukan satu-satunya yang kena tampar. Ringgit Malaysia amblas 0,42%, Peso Filipina tergerus 0,32%, Baht Thailand melemah 0,21%. Tekanan ini merata, dan itu bukan kebetulan.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca-FOMC," kata Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.900 dalam jangka pendek, rentang yang menggambarkan kondisi di mana pelemahan sudah dihargai pasar, tapi belum ada katalis kuat untuk pembalikan arah.
Dua kabar dari dalam negeri bisa dibaca dua arah sekaligus. MSCI memilih mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, dan itu secara teknis melegakan. Tapi lembaga pengindeks itu juga menurunkan rating information flow dari positif menjadi negatif, menyoroti kurangnya transparansi pasar modal: dari struktur kepemilikan yang kabur hingga indikasi transaksi terkoordinasi yang merusak pembentukan harga wajar. Pembatasan transaksi valas yang masih harus dikaitkan dengan transaksi efek tertentu pun masuk catatan merah. Angkat gelas atau garuk kepala? Pasar tampaknya memilih opsi kedua.
Satu faktor yang sedikit membantu adalah kesepakatan damai tahap pertama antara AS dan Iran. "Kesepakatan damai tahap pertama ini tentunya mendukung rupiah, namun untuk jangka pendek memang fluktuasi seperti ini terjadi, investor masih memberikan perhatian pada prospek suku bunga The Fed," ujar Lukman. Bank Indonesia, kata dia, diperkirakan masih akan menaikkan BI-Rate sekitar 50 basis poin, langkah yang dipandang krusial untuk menjaga daya tarik aset rupiah.
Sepanjang sepekan, kurs Jisdor masih menguat 0,53% dari Rp17.921 ke Rp17.826. Kurs spot pun positif 0,31% dalam tujuh hari. Konteks mingguan itu penting agar investor ritel tidak panik membaca headline harian. Pertanyaannya, berapa lama ketahanan ini bertahan? Selama inflasi AS belum jinak, dolar akan terus jadi tempat berlindung yang nyaman. Bak gayung bersambut: kebijakan hawkish The Fed dan ketidakpastian domestik MSCI sama-sama menekan rupiah dari dua sisi sekaligus.