JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Lesu, Tiket BTS Tetap Sold Out: Membaca Lip...

Ekonomi

Rupiah Lesu, Tiket BTS Tetap Sold Out: Membaca Lipstick Effect Indonesia

Di tengah tekanan daya beli dan pelemahan rupiah, tiket konser BTS di Jakarta habis dalam 10 menit dengan antrean 700.000 orang. Fenomena ini bukan anomali, melainkan cerminan lipstick effect yang kian nyata di Indonesia.

Lipstick Effect, Konsumen Cari Hiburan Murah Saat Ekonomi Tak Menentu

Tangan Setiorini gemetar saat menatap layar laptopnya. Staf salah satu kementerian itu berhasil mengamankan dua tiket konser BTS World Tour ARIRANG, satu untuk Jakarta, satu lagi Singapura. Rp3 jutaan per lembar. Jumlah yang tidak kecil untuk kantongnya.

Ia tahu itu. Tapi tetap gesek kartu kredit.

"Kalau menabung, butuh 4 bulan agar bisa nyaman menikmati konser di Singapura," akuinya. Matematikanya sederhana: terlalu lama menunggu, kesempatan hilang. Jadi pakai kartu, cicil belakangan.

Setiorini bukan pengecualian. Penjualan umum tiket BTS Jakarta pada awal Juni ludes dalam 10 menit, dengan antrean daring menembus 700.000 orang. Jumat (19/6), war tiket ARMY Membership Presale hari ketiga jebol sampai 960.000 antrean. Angka-angka itu muncul tepat ketika rupiah tertekan, harga BBM non-subsidi merayap naik, dan sebagian masyarakat menunda beli rumah karena cicilan terasa mustahil.

Inilah paradoks yang sedang kita saksikan, dan paradoks ini punya nama.

Lipstick effect. Konsep yang dipopulerkan Leonard Lauder, mantan Chairman Estée Lauder, setelah penjualan lipstik perusahaannya naik sekitar 11 persen pascaserangan 11 September 2001. Tesis Lauder sederhana: ketika ekonomi memburuk, orang berhenti beli barang besar tapi tidak berhenti mencari kesenangan kecil. Lipstik, kopi premium, tiket bioskop, atau sekarang tiket konser K-pop, semuanya masuk keranjang yang sama.

Di Indonesia, gejalanya sudah terbaca dari data ritel. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut indeks penjualan ritel menunjukkan peningkatan pada kategori perawatan pribadi, justru ketika tekanan daya beli meluas. "Itu salah satu gejala yang menurut saya cukup menarik ya, di tengah tekanan daya beli, ya dan juga kekhawatiran terhadap krisis," ujar Faisal. Ia menambahkan tren ini sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19, berarti sudah sekitar enam tahun berjalan.

Data digital dan offline sama-sama menunjuk arah yang sama. Lazada mencatat kenaikan 52 persen pada nilai rata-rata pembelanjaan pelanggan selama kampanye 6.6 Super WOW Sale dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan elektronik melonjak empat kali lipat, fashion enam kali lipat. Di jalur offline, festival kreatif brightspotCITY 2026 didatangi 216.000 pengunjung selama dua pekan di Agora Mall Jakarta, lonjakan transaksi 74 persen dibanding edisi sebelumnya yang dihadiri 175.000 orang.

Kenapa orang tetap belanja saat dompet tipis? Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira membacanya sebagai sinyal yang agaknya lebih suram dari permukaan. "Ini menunjukkan orang butuh kebahagiaan kecil di area hiburan kecil karena mereka putus asa untuk bisa menabung beli rumah atau membiayai pendidikan anak," katanya. Bhima juga menunjuk pola yang berulang: saat pandemi ada lonjakan tanaman hias dan hewan peliharaan, sebelumnya ada demam ikan louhan dan batu akik. Sekarang, Pokemon Card.

Sisi psikologis inilah yang sering luput dari narasi ekonomi konvensional. Artikel di Michigan Journal of Economics pernah membahas bahwa konsumsi produk bergengsi murah bukan sekadar soal membeli barang, melainkan memenuhi kebutuhan pengakuan sosial. Beli lipstik premium bisa menjadi substitusi tas mewah sebagai sinyal status. Dalam logika ini, konsumen bukan irasional. Mereka hanya melakukan kalkulasi ulang dengan anggaran yang menyempit.

Ekonom UI Budi Frensidy menyebutnya "alarm kecil." Fenomena ini baru benar-benar mengkhawatirkan apabila dibarengi penurunan tabungan rumah tangga, kenaikan kredit macet paylater, dan melemahnya konsumsi barang tahan lama. Sinyal-sinyal itu diperkuat, kata Budi, oleh budaya self-reward yang menguat, terutama karena media sosial dan promosi digital.

Nah, sinyal-sinyal itu kini mulai bermunculan. Per April 2026, kredit Buy Now Pay Later perbankan tumbuh 37,29 persen year-on-year menjadi Rp29,3 triliun dengan 31,76 juta rekening aktif. Kredit UMKM? Hanya tumbuh 0,16 persen yoy. "Artinya orang semakin banyak belanja hal yang sifatnya konsumtif dan dibiayai oleh utang," kata Bhima. Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menyebutnya gejala downtrading disertai utang: orang beralih ke kemasan lebih kecil dan produk lebih murah, tapi tetap mengandalkan paylater untuk menutup selisihnya.

Gambar yang muncul pun tidak seragam secara geografis. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memang mengalihkan wisatawan domestik kelas menengah atas dari luar negeri ke destinasi lokal, khususnya Pulau Jawa. Tapi justru itu yang menekan pariwisata di luar Jawa. Tiket pesawat antarpulau yang mahal membuat bandara di Sumatra, Kalimantan, dan Papua menjadi sepi. Lipstick effect yang semarak di Jakarta dan Bali tidak otomatis memotret kondisi nasional.

Bagi Anggota Komisi VII DPR Banyu Biru Djarot, fenomena ini seharusnya dibaca sebagai peluang. Ia mempertanyakan langkah konkret Kementerian Perindustrian untuk menjadikan lipstick effect sebagai penggerak pertumbuhan industri dalam negeri, mengingat risiko terbesar datang jika lonjakan konsumsi itu mayoritas diserap produk impor.

Pertanyaannya, berapa lama pola ini bisa bertahan?

Boleh jadi kafe masih ramai, tiket konser masih sold out, festival fashion masih membludak. Tapi Yusuf dari CORE mengingatkan agar tidak salah membaca angka-angka itu. "Efek lipstik sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat," tegasnya. Kalau tekanan ekonomi berlanjut sementara pendapatan stagnan, yang tersisa bukan kenangan indah dari pit konser, melainkan tabungan yang terkuras dan cicilan yang menumpuk.