Rupiah jebol.
Level psikologis Rp17.400 per dolar AS akhirnya bobol pada perdagangan Selasa (5/5/2026), mencetak rekor intraday terlemah dalam sejarah mata uang Garuda.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah menyentuh Rp17.403 per dolar AS sekitar pukul 09.07 WIB, tergerus 0,22% dari penutupan sehari sebelumnya. Data Bloomberg mengonfirmasi senada, eh, bukan em dash, selaras dengan itu, dolar AS tercatat dibuka di Rp17.404 pagi tadi dengan penguatan tipis 6 poin.
Bukan angka main-main.
Penutupan Senin (4/5/2026) di Rp17.365 sudah jadi rekor penutupan terlemah sepanjang masa. Kini, dalam hitungan jam, angka itu terlampaui begitu saja. Rupiah sempat dibuka di Rp17.380 sebelum tekanan makin dalam membawanya jebol ke level yang selama ini jadi batas psikologis pasar.
Di balik semua ini: dolar AS menguat di pasar global. Indeks dolar (DXY) per pukul 09.00 WIB naik 0,15% ke 98,521, terdorong naiknya permintaan aset safe haven. Pemicunya, entah mengejutkan atau tidak, tetap soal kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah yang belum juga reda.
Ketika greenback perkasa di pasar global, mata uang negara berkembang hampir selalu jadi korban pertama. Rupiah tidak terkecuali.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah rupiah bisa bertahan di bawah Rp17.400. Seberapa dalam koreksi masih mungkin terjadi jika sentimen geopolitik terus memburuk? Bagi investor dengan eksposur ke aset berdenominasi valuta asing, ini bukan sekadar angka di ticker. Ini alarm.