SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah dan IHSG Sudah Naik, Kini Tinggal Menunggu...

Bisnis

Rupiah dan IHSG Sudah Naik, Kini Tinggal Menunggu BI

Rupiah menyentuh level terkuat dalam tiga pekan terakhir di Rp17.890 per dolar AS, IHSG melonjak 4,24% dalam sepekan. Tapi pasar belum tenang, sebab skenario kenaikan BI Rate 25 bps mulai beredar.

Bareksa Insight: Rupiah dan IHSG Menguat, Peluang ORI030 & Reksadana Ini Jelang Putusan BI Rate

Rupiah ditutup di Rp17.890 per dolar AS pada Jumat (17/7), level terkuat dalam hampir tiga pekan. IHSG melesat 4,24% dalam sepekan ke posisi 6.175,54. Dua angka ini datang bersamaan, dan bukan kebetulan.

Dua katalis utama menopang penguatan itu: afirmasi peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil oleh S&P Global Ratings, plus derasnya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara yang diperkirakan mencapai sekitar Rp33 triliun sepanjang Juni hingga awal Juli 2026. Bagi pasar, kombinasi ini ibarat dua angin yang bertiup dari arah sama, dan hasilnya terasa.

Rating BBB/Stable dari S&P bukan sekadar stempel. Afirmasi ini memperkuat daya tarik obligasi pemerintah di mata investor global, menekan yield SUN, dan secara tidak langsung menopang rupiah karena permintaan terhadap aset berdenominasi rupiah ikut terkerek. Sinyal bahwa fundamental fiskal Indonesia tetap terjaga, di tengah ketidakpastian global yang masih menganga, ternyata cukup untuk menggerakkan modal asing masuk.

Tapi pasar belum bebas dari kegelisahan. Semua mata kini tertuju ke Rabu, 22 Juli 2026, hari ketika Dewan Gubernur Bank Indonesia mengumumkan keputusan suku bunga acuan. Skenario kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 6% mulai diperhitungkan sejumlah analis, dipicu tekanan inflasi dan dinamika rupiah yang belum sepenuhnya stabil.

Bukan tanpa dasar. Permintaan domestik terus melemah, kepercayaan konsumen stagnan di Juni, penjualan ritel masih terkontraksi, dan sentimen bisnis tertekan kenaikan biaya produksi. Ketahanan konsumen pun semakin tidak merata: rumah tangga berpenghasilan tinggi masih oke, tapi segmen menengah mulai goyah dan pekerja berpenghasilan rendah paling rentan terhadap gelombang PHK.

Menaikkan suku bunga dalam kondisi seperti ini bukan keputusan yang ringan.

Namun ada ruang bagi BI untuk bertahan. Inflasi AS yang mereda telah mengurangi tekanan pengetatan lanjutan dari The Fed, mendorong yield US Treasury dan indeks dolar DXY turun, dan ini memberi napas bagi rupiah. Stimulus fiskal pemerintah juga diharapkan mengimbangi sebagian tekanan pertumbuhan, terutama untuk mendukung konsumsi kelompok berpenghasilan rendah di semester kedua 2026. Agaknya BI masih menimbang dua sisi neraca ini dengan cermat.

Bagi investor, situasi menjelang 22 Juli memunculkan pertanyaan yang cukup praktis: parkir di mana dulu?

ORI030 layak dicermati, terutama bagi yang ingin mengunci kupon tetap sebelum keputusan BI keluar. Seri tiga tahun (ORI030-T3) menawarkan kupon 6,90% per tahun, sementara seri enam tahun (ORI030-T6) memberikan 7,00%. Keduanya dijamin pemerintah hingga jatuh tempo, dan masa penawaran masih terbuka hingga 30 Juli 2026. Dengan pajak kupon hanya 10%, instrumen ini jauh lebih efisien dibanding bunga deposito.

Reksadana pasar uang bisa jadi tempat berteduh sementara bagi yang belum mau ambil posisi panjang. Insight Money mencatat return 5,25% dalam setahun, STAR Money Market Kelas Utama di 4,59%, keduanya menawarkan likuiditas yang fleksibel. Untuk investor dengan horizon menengah hingga panjang, reksadana pendapatan tetap berbasis SBN menarik apabila skenario penurunan yield terjadi pasca-keputusan BI. Kenaikan harga obligasi akan menghasilkan capital gain. Bukan angka kecil, kalau timingnya tepat.

Emas? Harga dunia terkoreksi ke sekitar US$4.017 per troy ons, amblas sekitar 2,5% dalam sepekan akibat penguatan dolar AS dan aksi ambil untung. Bagi investor jangka panjang, ini bisa jadi momentum akumulasi bertahap, bukan panik jual. Koreksi seperti ini, entah kebetulan atau tidak, sering datang justru ketika pasar utama sedang menunggu katalis besar.

Keputusan BI Rate Rabu ini akan menjawab banyak hal sekaligus: arah rupiah, yield obligasi, kinerja reksadana pendapatan tetap, hingga sentimen di pasar saham. Pertanyaannya, apakah fundamental yang menopang penguatan sepekan ini cukup kuat bertahan setelah pengumuman keluar, ataukah pasar sudah terlalu cepat berlari.