SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Cetak Rekor Terlemah: SGD Rp14.000, Ringgit...

Bisnis

Rupiah Cetak Rekor Terlemah: SGD Rp14.000, Ringgit Rp4.500

Rupiah mencetak level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia sekaligus pada Jumat pagi, sementara terhadap dolar AS mata uang Garuda juga tergerus ke kisaran Rp17.860.

Rupiah Babak Belur! Dolar Singapura Sentuh Rp 14.000

Dua rekor terburuk dalam satu hari. Rupiah pada Jumat (29/5) pagi resmi menembus dua level psikologis sekaligus: Rp14.000 per dolar Singapura dan Rp4.500 per ringgit Malaysia, keduanya untuk pertama kali dalam sejarah.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp14.000/SGD sebelum sedikit memangkas koreksinya ke kisaran Rp13.982 pada pukul 09.51 WIB. Angka ini bukan sekadar angka bulat yang enak dibaca, ini penanda bahwa sepanjang 2026, rupiah sudah ambruk sekitar 7,97% terhadap SGD, dari posisi akhir 2025 di Rp12.957/SGD.

Tak lebih baik posisinya terhadap ringgit. Rupiah tergerus 1,01% ke Rp4.502,95/MYR, menembus level Rp4.500 untuk pertama kalinya. Dari awal tahun, pelemahannya bahkan mencapai 9,91%. Khusus sepanjang Mei saja, rupiah sudah amblas sekitar 3,68% dari posisi Rp4.343/MYR pada 1 Mei lalu. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Terhadap dolar AS pun kondisinya tak jauh berbeda. Data Bloomberg mencatat greenback menguat 0,11% ke Rp17.864 pada pukul 09.55 WIB, berbalik dari pembukaan yang sempat menekan dolar ke Rp17.836,5. Data Reuters pagi hari menempatkan rupiah di Rp17.860/USD, melemah 0,48% dibanding posisi sebelumnya. Secara year-to-date, rupiah sudah tergerus sekitar 6,66% terhadap dolar AS dari level Rp16.670 di akhir 2025. Salah satu yang paling dalam di Asia.

Perbandingannya memang menyakitkan. Rupiah dan won Korea Selatan (turun 0,44% ke 1.501,3/USD) jadi yang paling babak belur di kawasan, sementara mata uang tetangga justru melenggang. Ringgit menguat 0,25%, yuan China naik 0,06%, baht Thailand menguat 0,08%. Bahkan dolar Singapura yang ikut terkoreksi tipis 0,06% terhadap dolar AS punya performa YTD yang jauh lebih solid: hanya turun 0,73%.

Kontras itu agaknya bukan kebetulan. Kuatnya ringgit ditopang fondasi ekonomi Malaysia yang masih relatif sehat. Total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi MYR273 miliar, dengan surplus perdagangan MYR24,6 miliar meski sedikit menyempit. Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd Mohd Afzanizam Abdul Rashid memperkirakan PDB Malaysia di kuartal I-2026 tumbuh di atas 5%, ditopang ekspor nominal yang melesat 12,7%, lebih tinggi dari 11,0% di kuartal sebelumnya. "Dengan demikian, ekonomi Malaysia berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan saat ini akibat lonjakan harga minyak karena perang di Iran," kata Mohd Afzanizam, dikutip dari Bernama.

Indonesia berdiri di sisi yang berbeda. Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% terhadap PDB, nyaris mepet batas 3% yang diatur undang-undang. Kekhawatiran pasar soal disiplin fiskal belum reda, kalau bisa dibilang justru makin pekat seiring beban program pemerintah yang dinilai besar. Investor terus memantau arah belanja negara. Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan?

Kalau pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih bisa dibingkai sebagai tekanan global yang merata, koreksi tajam terhadap SGD dan ringgit adalah cerita yang berbeda sama sekali. Ini soal kepercayaan pada ekonomi domestik, yang saat ini jelas kalah bersaing dengan negara tetangga.