JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Gubernur BI Merapat k...

Ekonomi

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Gubernur BI Merapat ke Kemenko

Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS dan mencetak level terlemah intraday sepanjang sejarah. Gubernur BI Perry Warjiyo memilih bungkam usai bertemu Menko Airlangga.

Pagi ini rupiah resmi menorehkan rekor yang tidak ingin dicatat siapa pun: Rp17.403 per dolar AS, level terlemah intraday sepanjang sejarah mata uang Garuda.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo langsung bergerak. Sekitar pukul 10.30 WIB, Selasa (5/5/2026), Perry tiba di kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, eh, hapus itu. Perry tiba di kantor Menko Airlangga saat tekanan rupiah kian menggigit. Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyebut agendanya sederhana: "brunch" untuk membahas kondisi ekonomi terkini. "Brunch, bahas kondisi ekonomi terkini," kata Haryo singkat.

Sederhana dalam nama. Agaknya tidak demikian dalam substansi.

Pertemuan itu terjadi jelang rilis data pertumbuhan ekonomi oleh BPS, dijadwalkan pukul 11.00 WIB hari yang sama. Cukup untuk menaikkan tensi sendiri. Kombinasi tekanan eksternal dan ketidakpastian data domestik, campuran yang, kalau boleh jujur, jarang berakhir menyenangkan bagi rupiah.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat dibuka di Rp17.380 per dolar AS sebelum meluncur ke Rp17.403, tergerus 0,22% dari penutupan sebelumnya. Bukan koreksi besar dalam persentase. Tapi level absolutnya yang bikin pelaku pasar terdiam.

Usai pertemuan, Perry memilih bungkam. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada penjelasan ke awak media yang menunggu di luar. Sikap yang bisa dibaca dua arah: kehati-hatian agar pasar tidak makin reaktif, atau memang belum ada jawaban yang siap dikonsumsi publik. Entah kebetulan atau tidak, diam kerap lebih keras dari pernyataan apa pun.

Tekanan terhadap rupiah bukan cerita baru kuartal ini. Penguatan dolar AS secara global dan sentimen risk-off yang menyelimuti pasar negara berkembang sudah menghajar banyak mata uang di kawasan. Tapi menembus Rp17.400 tetap punya bobot tersendiri, baik sebagai angka psikologis maupun sinyal bahwa ruang manuver BI kian menyempit.

Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh Perry dan Airlangga menyepakati respons kebijakan konkret dari pertemuan pagi itu, dan kapan pasar akan melihat hasilnya.