JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Cetak Rekor Penutupan Terlemah, Selasa Pagi...

Finansial

Rupiah Cetak Rekor Penutupan Terlemah, Selasa Pagi Sudah di Rp17.405

Rupiah ditutup di Rp17.365 per dolar AS pada Senin, level penutupan terlemah sepanjang masa, sebelum kembali tergerus ke Rp17.405 pada Selasa pagi. Tekanan datang dari dua arah: inflasi transportasi domestik dan ketidakpastian konflik AS-Iran.

Rupiah kembali dihajar. Pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026), nilai tukar rupiah amblas 0,35% ke Rp17.365 per dolar AS, mencetak level penutupan terlemah dalam sejarah. Tekanan belum berhenti di situ, eh, belum selesai di situ: Selasa pagi rupiah sudah melemah lagi 11 poin ke Rp17.405 per dolar AS.

Empat hari beruntun rupiah terkoreksi. Bukan momentum yang ingin dilihat siapapun.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik merilis inflasi April 2026 sebesar 0,13% secara bulanan, dengan inflasi tahunan di angka 2,4%. Angka ini agaknya tidak cukup mengkhawatirkan untuk memicu alarm. Tapi ada yang patut dicermati: sektor transportasi mencatat inflasi 0,99% dengan andil 0,12% terhadap inflasi bulanan. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menyusul di angka 0,69% dengan andil 0,07%.

Pendorongnya? Kenaikan tarif tiket pesawat plus penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Dua komponen yang paling sensitif terhadap gejolak energi global. Dan harga minyak mentah dunia, entah kebetulan atau tidak, masih terkerek akibat perang di Timur Tengah.

DXY per pukul 15.00 WIB Senin terpantau menguat ke 98,242. Bukan level yang ekstrem, tapi cukup untuk terus menekan mata uang negara berkembang.

Dari luar negeri, ada secercah harapan yang belum tentu jadi kenyataan. Trump mengumumkan rencana membuka sebagian akses di Selat Hormuz, dengan mulai memandu kapal-kapal komersial yang tertahan sejak konflik dengan Iran pecah. Pasar merespons. Dingin.

Investor masih meragukan seberapa efektif manuver diplomatik kali ini dalam meredakan gangguan di jalur energi tersibuk di dunia itu. Kalau data historis bisa jadi pegangan, optimisme terhadap de-eskalasi AS-Iran selalu prematur.

Selama konflik belum ada resolusi jelas, risiko inflasi energi tetap menggantung. Rupiah, yang sudah empat hari tak bisa napas, belum punya alasan kuat untuk berbalik.

Bagi Bank Indonesia, inflasi April ini jadi bahan pertimbangan tambahan dalam merumuskan arah kebijakan moneter. Menjaga stabilitas harga dan nilai tukar sekaligus, dua variabel yang makin sulit dikendalikan bersamaan ketika tekanan eksternal datang dari segala penjuru.

Sampai di mana rupiah akan berhenti? Belum ada yang tahu.