Nilai tukar rupiah tidak memberi ruang untuk optimisme. Dibuka melemah ke Rp17.757 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026) pagi, rupiah melanjutkan tren pelemahan sehari sebelumnya ketika ditutup di Rp17.744, level itu sudah melampaui semua rekor penutupan sebelumnya, termasuk yang dicetak seusai Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 basis poin pada 20 Mei lalu.
Yang membuat pelaku pasar semakin resah: pelemahan ini terjadi justru ketika harga minyak Brent amblas sekitar 5,3% ke kisaran US$94,9 per barel pada Senin. Secara teori, minyak murah seharusnya meringankan beban neraca pembayaran Indonesia. Tapi rupiah tetap tertekan. Artinya, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dikhawatirkan pasar.
Sentimen itu agaknya bermuara pada dua hal: wacana sentralisasi ekspor komoditas yang regulasinya belum juga rampung, dan rebalancing indeks MSCI serta FTSE yang efektif masing-masing pada 1 Juni dan 22 Juni 2026. Kedua event ini berpotensi memicu outflow tambahan dari saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Pekan lalu saja, pasar obligasi mencatat outflow Rp1,4 triliun, meski secara kumulatif satu bulan terakhir masih inflow Rp8,1 triliun.
Di lantai bursa, cerita Selasa siang tidak kalah suram. IHSG sempat bergerak solid di zona hijau pada awal sesi, tapi tekanan jual meluas menjelang penutupan sesi pertama. Indeks akhirnya ditutup melemah 0,91% ke 6.150. Market breadth bicara tegas: 396 saham melemah, hanya 253 yang menguat.
Saham-saham big banks yang kemarin jadi bintang langsung berbalik arah. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang Senin melonjak 3,93%, hari ini terkoreksi 2,21% ke Rp3.100. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), naik 3,39% kemarin, hari ini minus 1,23% ke Rp6.025. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senasib. Tekanan paling dalam datang dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 7,5%, disusul PT Timah Tbk (TINS) minus 7,3% dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 3,9%.
Kenapa asing terus melepas saham perbankan? Lo Kheng Hong punya jawaban yang cukup lugas. Investor kawakan ini berbicara dalam "Seminar Investasi dan Keuangan" pada 1 Mei 2026 yang diunggah di YouTube GBITasikWorship, ketika seorang peserta bertanya soal pelemahan saham bank besar. Menurutnya, fundamental bank-bank besar tidak bermasalah, kinerja tidak turun, tapi harga saham tertekan karena asing menjual. "Kenapa dijual? Kita cuma bisa terka-terka saja," kata Lo. "Mungkin dia takut currency risk. Dulu dia beli saham kursnya Rp14.000 per dolar. Sekarang kalau dia jual saham balikin ke dolar harus beli di Rp17.300-an," sambungnya. Kerugian nilai tukar itulah yang membuat asing tidak lagi betah.
Senin kemarin, IHSG memang mencatat net foreign outflow Rp2,2 triliun, meski indeks masih naik 0,72% berkat reli saham big caps. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sudah turun dari 6,78% menjadi 6,68% sejak kenaikan BI Rate. Tapi rupiah jalan sendiri. Kebijakan moneter sudah bergerak, pasar obligasi masih menunjukkan tanda-tanda inflow. Belum cukup.
Sektor energi kembali tergerus hari ini, melanjutkan koreksi minggu lalu yang mencapai 11,58%. Aturan pelaksana kebijakan ekspor satu pintu yang dijanjikan rampung Jumat (22/5) ternyata molor lagi. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut regulasi tersebut ditargetkan selesai Senin kemarin. Belum juga. Mundurnya kepastian regulasi itu yang membuat investor komoditas sulit menghitung ulang risiko, dan pasar tidak suka menunggu.
Nilai transaksi Selasa siang menembus Rp9,12 triliun dengan kapitalisasi pasar bursa di posisi Rp10.662 triliun. Volume perdagangan 15,32 miliar saham, frekuensi 1,21 juta kali transaksi. Ramai, untuk ukuran sesi yang berakhir di zona merah.