SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Berbalik Melemah ke Rp17.090, Pasar Tunggu...

Bisnis

Rupiah Berbalik Melemah ke Rp17.090, Pasar Tunggu Kepastian Selat Hormuz

Setelah sempat menguat sehari, rupiah kembali tertekan ke Rp17.090 per dolar AS pada Kamis (9/4/2026), dipicu ketidakpastian implementasi gencatan senjata AS-Iran dan kekhawatiran harga minyak yang bertahan tinggi.

Menguat sehari, langsung berbalik.

Kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah Rp78 atau 0,46% ke level Rp17.090 per dolar AS pada Kamis (9/4/2026). Kurs JISDOR Bank Indonesia ikut tergelincir Rp73 atau 0,43% ke Rp17.082 per dolar AS. Padahal sehari sebelumnya, rupiah sempat mencatatkan penguatan cukup solid 0,92% ke Rp15.338, seiring euforia pengumuman gencatan senjata AS-Iran.

Ternyata eforianya pendek umur.

Tiffani Safinia dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menilai pelemahan hari ini mencerminkan sikap tunggu pasar, bukan kepanikan. "Pasar masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis energi global," ucapnya kepada ANTARA. Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20% aliran minyak global, belum sepenuhnya kembali normal meski ada janji de-eskalasi dari Teheran.

Gencatan senjata dua pekan yang ditengahi Pakistan itu memang terlihat rapuh. Iran memberikan jaminan bersyarat atas jalur aman Selat Hormuz, tapi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) langsung menegaskan bahwa pembicaraan ini tidak berarti perang berakhir. Syarat-syarat Teheran tidak ringan: mulai dari pengakuan hak pengayaan uranium, pencabutan semua sanksi AS, hingga penarikan pasukan tempur Amerika dari kawasan. Siapa mau mundur duluan?

Situasi makin keruh setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Dahiyeh, selatan Beirut, menewaskan sedikitnya 254 orang. Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengklarifikasi bahwa penghentian konflik di Lebanon memang bukan bagian dari kesepakatan, menyebutnya "kesalahpahaman." Trump menilai situasi itu sebagai "bentrokan terpisah." Pasar, jujur saja, tidak terkesan dengan penjelasan semacam itu.

"Meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, pasar menilai dampaknya masih bersifat sementara dan belum mampu memberikan sentimen risk-on yang kuat," tambah Tiffani.

Tekanan domestik juga berlapis. Harga minyak yang bertahan tinggi membuka risiko membengkaknya biaya subsidi bahan bakar, dan itu berpotensi menggerus ruang fiskal pemerintah. Perang Iran sudah berlangsung enam pekan. Setiap minggu yang berlalu jadi beban tambahan bagi neraca fiskal negara-negara importir energi, Indonesia termasuk.

Kementerian Keuangan berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan komitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB. Amunisi lain datang dari data penerimaan negara kuartal pertama yang terbilang solid: realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, tumbuh 10,5% secara tahunan, setara 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun. Penerimaan perpajakan tembus Rp462,7 triliun, naik 14,3% year-on-year. Angka yang mestinya jadi penawar.

Tapi agaknya, selama Selat Hormuz belum benar-benar aman dan harga minyak masih membara, data domestik sekuat apa pun hanya mampu menahan, bukan membalik, tekanan terhadap rupiah.

Indeks dolar AS pada penutupan terpantau melemah tipis 0,08% ke 99,05. Tidak cukup memberi ruang bagi mata uang Garuda. Beda cerita kalau kesepakatan AS-Iran betul-betul berjalan mulus. Sampai saat itu tiba, Rp17.000-an agaknya masih jadi rumah rupiah untuk beberapa waktu.