JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rubio Terbang ke Roma, Tambal Keretakan yang Dibua...

Internasional

Rubio Terbang ke Roma, Tambal Keretakan yang Dibuat Trump Sendiri

Menlu AS Marco Rubio dijadwalkan mengunjungi Roma pada 6–8 Mei untuk menambal hubungan Washington dengan Italia dan Vatikan setelah serangkaian gesekan terbuka yang melibatkan Presiden Trump.

Marco Rubio terbang ke Roma akhir pekan ini. Bukan kunjungan rutin.

Menteri Luar Negeri AS itu dijadwalkan berada di Italia pada 6-8 Mei, menemui pejabat Vatikan sekaligus Menteri Luar Negeri Antonio Tajani. Pertemuan dengan Perdana Menteri Giorgia Meloni disebut masih mungkin terjadi, meski belum dikonfirmasi resmi.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott membingkai kunjungan ini sebagai upaya "memperkuat hubungan bilateral" dan membahas kepentingan keamanan bersama serta penyelarasan strategis. Kalimat diplomatik yang rapi. Konteksnya jauh lebih berat.

Hubungan Washington dan Roma belakangan ini berantakan secara cukup memalukan untuk dua sekutu NATO. Awal April, Meloni secara terbuka menyebut serangan Trump terhadap Paus Leo XIV sebagai "tidak dapat diterima". Trump membalas lewat wawancara di harian Italia Corriere della Sera, menyebut Meloni kurang berani soal kebijakan terhadap Iran. Bukan sekadar perbedaan pandangan. Ini adu pernyataan di muka publik.

Paus Leo XIV sendiri sudah lebih dari sekali membuat Trump tidak nyaman, berulang kali menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan secara eksplisit mengkritik operasi militer AS terhadap Iran. Meloni pun memblokir pangkalan udara Sigonella dan wilayah udara Italia untuk pesawat-pesawat AS yang berkaitan dengan operasi tersebut. Dalam terminologi aliansi, langkah itu bisa dibaca sebagai penolakan terang-terangan.

Sinyal dari Washington mulai terasa lebih dari sekadar gertakan. Trump pekan lalu menyebut ia terbuka mengurangi kehadiran pasukan AS di Italia. Pentagon pada Jumat mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 tentara dari Jerman, sekutu NATO lain yang juga tengah berseteru dengan Trump. Entah kebetulan atau tidak, timing-nya sulit diabaikan.

Agenda resmi Rubio mencakup perkembangan di Timur Tengah dan isu kepentingan bersama di belahan Barat. Ia juga akan menemui pimpinan Takhta Suci secara langsung. Kunjungan ke Vatikan itu agaknya yang paling sensitif secara simbolis, mengingat Trump sendiri pernah melabeli Paus Leo sebagai "lemah terhadap kejahatan".

Ada satu momen yang agak menggelikan: Trump sempat mengusulkan agar Italia menggantikan Iran di Piala Dunia sebagai gestur pendekatan diplomatik. Tawaran itu memicu lebih banyak tawa sinis ketimbang niat baik. Bak gayung yang jatuh ke lantai, bukan bersambut.

Rubio kini yang harus membereskan kekacauan itu. Pertanyaannya bukan apakah kunjungan ini akan berlangsung. Seberapa dalam keretakan yang bisa ia tambal dalam tiga hari, itu yang belum ada yang tahu.