Selat Hormuz mulai terbuka. Tapi Jakarta tidak bergeming.
Kementerian ESDM memastikan impor minyak mentah dari Rusia tetap berjalan, terlepas dari membaiknya kondisi geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai. Presiden AS Donald Trump menyatakan jalur pelayaran strategis itu akan "sepenuhnya terbuka" pada 19 Juni 2026. Pengumuman itu tidak mengubah arah kebijakan energi Indonesia sedikit pun.
"Yang pasti, arahan Presiden jelas untuk tetap memperkuat cadangan energi nasional kita dengan beragam cara, termasuk salah satunya adalah impor crude dari Rusia. Ini masih tetap akan berjalan, masih tetap dalam proses," kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Landasan hukumnya sudah ada. Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan Keppres 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan BBM, yang memberi kewenangan kepada BUMN hingga Lemigas untuk mengimpor minyak demi memperkuat ketahanan energi nasional. Bukan respons darurat semata. Ini strategi jangka panjang.
Rusia bukan satu-satunya opsi. Nigeria, Angola, dan Amerika juga masuk daftar belanja, bagian dari diversifikasi yang sengaja dirancang untuk memangkas ketergantungan pada pasokan Timur Tengah. Kawasan itu, sejak konflik meletus 28 Februari lalu, jadi zona yang dihindari, bukan sekadar soal harga, tapi karena risiko pasokan yang nyata.
Selat Hormuz sendiri sempat bikin pasar energi global kelimpungan. Iran menutupnya sejak awal perang, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi di negara-negara pengimpor, Indonesia termasuk. Kini Trump mengklaim arus pelayaran sudah mulai normal. "Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz," katanya, dikutip AFP. Media Iran melaporkan tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo sudah melewati wilayah yang sebelumnya diblokade.
Agaknya Jakarta sudah belajar sesuatu dari episode beberapa bulan terakhir: terlalu bergantung pada satu jalur pasokan adalah risiko yang mahal. "Apapun upayanya, dari mana pun sumbernya, pasti akan diupayakan agar bisa memperkuat kondisi stok energi nasional kita," tambah Dwi.
Bagi pelaku pasar energi dan investor di sektor hilir migas, sinyal ini cukup terbaca. Kebijakan diversifikasi impor tampaknya sudah menjadi postur permanen pemerintahan Prabowo. Pertanyaannya, berapa lama harga minyak Rusia tetap kompetitif pascasanksi? Kalkulasinya kini melampaui soal harga semata, entah kebetulan atau tidak, itulah yang membuat kebijakan ini tahan banting.