JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Reformasi di Ruang Sidang, Antrean Panjang di Term...

Ekonomi

Reformasi di Ruang Sidang, Antrean Panjang di Terminal Bus

Partai Komunis Kuba menyetujui reformasi untuk membuka investasi swasta, sementara di waktu yang bersamaan pemerintah membatasi perjalanan antarkota hanya untuk kematian dan kedaruratan, cerminan kontradiksi paling telanjang dari krisis ekonomi terparah dalam sejarah negara itu.

Di Tengah Tekanan AS, Kuba Setujui Reformasi Ekonomi

Kuba sedang mencoba menjual diri kepada investor asing, sementara warganya sendiri tak mampu membeli tiket bus untuk pulang ke kampung halaman.

Dua peristiwa yang terjadi hampir bersamaan pada pertengahan Juni 2026 ini menggambarkan betapa dalamnya lubang yang sedang menganga di Havana. Komite Sentral Partai Komunis Kuba (PCC) pada Rabu (17/6) menggelar sidang pleno luar biasa dan menyetujui paket reformasi ekonomi yang, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, berjanji membuka lebih banyak sektor bagi investasi swasta. Sehari kemudian, pemerintah mengumumkan pembatasan perjalanan lintas kota yang nyaris tak punya preseden: bus dan kereta kini hanya boleh dinaiki oleh orang sakit, mereka yang hendak menghadiri pemakaman, atau yang menghadapi keadaan darurat.

Kereta api dari Havana ke kota-kota di timur, yang sebelumnya beroperasi tiga kali seminggu, kini hanya berjalan setiap 16 hari sekali. Bus yang dulu setidaknya ada sekali sehari kini paling sering tiga kali seminggu. Tiket pun harus dipesan tujuh hari sebelumnya. Hampir semua pompa bensin di seluruh pulau sudah kehabisan stok, bahan bakar di pasar gelap dihargai sekitar 8 dolar AS per liter, dan taksi swasta yang masih beroperasi mematok tarif hingga 200 kali lipat harga normal. Lumpuh total, bisa jadi itu kata yang paling tepat.

Akar masalahnya bisa ditelusuri ke Januari lalu, ketika AS menghentikan pasokan bahan bakar ke Kuba. Pemerintahan Trump memang sudah lama menuntut Havana melakukan reformasi politik dan ekonomi menyeluruh, bahkan secara terbuka melontarkan wacana pergantian rezim. Tidak berhenti di sana: AS juga mendakwa Raul Castro atas tuduhan pembunuhan terkait dugaan keterlibatannya dalam sebuah kecelakaan pesawat.

Menghadapi tekanan itu, PCC merespons dengan reformasi yang mereka klaim lahir dari dalam negeri, bukan karena dipaksa dari luar. Kepala departemen ideologi partai, Yuniaski Crespo Baquero, menyebut langkah-langkah ini sebagai "respons yang lahir dari dalam negeri, kreatif, berani, dan revolusioner" terhadap apa yang ia gambarkan sebagai perang ekonomi yang dihadapi Kuba. Presiden Miguel Diaz-Canel, yang pertama kali memaparkan rencana ini akhir pekan sebelumnya, mendapat restu simbolis dari Raul Castro, kini 95 tahun, yang berpartisipasi lewat sambungan video dalam sidang tersebut. Anggota Biro Politik Jose Amado Ricardo Guerra menyebut Castro "sepenuhnya setuju" dengan arah reformasi ini.

Narasi heroik itu sulit diverifikasi di lapangan. Di luar kantor bus milik negara di Havana, Madelaine Montero, 51 tahun, antre sejak pagi untuk mengurus tiket membawa ayahnya, pasien kanker berusia 80 tahun, pulang ke Granma, sekitar 750 kilometer di sebelah timur. "Jika tidak segera dibawa, dia tidak dapat menerima perawatan," ujarnya. Beberapa meter dari situ, Jose Manuel Garcia, 60 tahun, yang mengalami kebutaan pada salah satu matanya, juga berjuang mendapat tiket kembali ke Santiago de Cuba karena khawatir jadwal perawatan matanya terganggu.

Bus kota di Havana hampir lenyap dari jalanan. Warga terpaksa berjalan kaki ke tempat kerja atau sekolah dalam suhu hampir 40 derajat celsius. Angka yang tidak main-main untuk ditempuh dengan kaki. Julio Cesar Padron, pengemudi truk berusia 30 tahun, merangkum situasinya dengan singkat: "Dengan harga yang sangat tinggi, orang-orang memilih tinggal di rumah."

Reformasi yang disetujui PCC masih menunggu pengesahan dari Majelis Nasional Kekuatan Rakyat (ANPP), parlemen unikameral Kuba, yang dijadwalkan bersidang keesokan harinya. Detail kebijakan belum dirinci sepenuhnya, dan PCC berulang kali menegaskan bahwa ini bukan "penyimpangan dari agenda sosialis." Klaim yang agaknya perlu ditilik lebih jauh, mengingat Kuba pernah melewati periode keterbukaan serupa pada era Special Period di 1990-an, sebelum sebagian besar dikembalikan ke kendali negara.

Enam tahun terakhir ekonomi Kuba terus menyusut. Krisis kali ini bisa jadi yang paling brutal, bukan semata karena tekanan dari Washington, tapi juga karena akumulasi kerapuhan struktural yang tak pernah benar-benar dibenahi. Reformasi boleh saja lahir dari ruang sidang ber-AC di Havana. Di terminal bus Ciego de Avila, yang sepi tanpa teriakan calo dan kernet, ceritanya lain.