Rupiah sudah tergerus 7,5 persen sejak Januari. Angka yang berat. Dan itulah yang membuat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini terasa lebih krusial dari biasanya.
RDG berlangsung 21-22 Juli 2026, dan konsensus di kalangan ekonom sudah cukup jelas: BI Rate naik 25 basis poin dari 5,75 persen ke level 6 persen. Kepala Ekonom BCA David Sumual bilang kenaikan ini memang sudah lama tertunda. BI Rate, kata David, sebenarnya sudah lagging behind dari indikator suku bunga lain di pasar keuangan domestik. SRBI sudah lebih tinggi, Indonia konsisten bertengger di atas 6 persen selama dua pekan terakhir. Pasar, singkatnya, sudah pricing in langkah ini jauh-jauh hari.
Dua tekanan datang bersamaan: inflasi pangan yang terkerek akibat El Nino, plus the Fed yang diperkirakan masih mengerek suku bunga setidaknya 25 bps lagi di paruh kedua 2026. Kombinasi ini membuat ruang gerak BI kian sempit, bak pedang bermata dua.
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto lebih to the point. "Realitasnya adalah higher for longer. Dengan proyeksi rupiah masih berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS, akan sulit bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga secara signifikan," tegasnya. Kurs rupiah hari ini bertengger di Rp 17.890 per dolar AS, tergerus dari sekitar Rp 16.700 di awal tahun. Bukan angka kecil, dan bukan pergerakan yang bisa dikesampingkan begitu saja oleh investor asing yang kalkulasi risikonya selalu mempertimbangkan nilai tukar.
Rully bahkan mengkritik pendekatan BI yang selama ini dinilai masih berupaya menyeimbangkan antara stabilitas dan pertumbuhan. Situasi saat ini, menurutnya, butuh kebijakan yang lebih tegas ke satu arah. "Stance kebijakan moneter seharusnya lebih all out pada stabilitas," katanya. Konsekuensinya terasa di sektor riil: Mirae memangkas proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia 2026 menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen, mempertimbangkan perlambatan ekonomi, inflasi yang lebih tinggi, pelemahan neraca eksternal, dan tekanan rupiah yang belum reda.
Tapi IHSG justru melonjak. Mengejutkan? Agaknya tidak sepenuhnya.
Sepanjang pekan lalu hingga Selasa (21/7), indeks melesat hampir 5 persen, menembus level 6.300. Kapitalisasi pasar menyentuh Rp 10.850 triliun, lebih dari 400 saham mencatat kenaikan harga, transaksi harian melampaui Rp 6 triliun. Yang lebih menarik, asing mulai balik badan: net buy Rp 725 miliar pada 17 Juli, lalu Rp 156 miliar pada 20 Juli. Masih tipis dibanding net sell akumulatif sekitar Rp 90 triliun sepanjang 2026, tapi pergeseran arah selalu dimulai dari angka kecil.
Analis pasar modal Hendra Wardana dari Republik Investor melihat ini sebagai sinyal awal, bukan konfirmasi tren. "Kalau rupiah bisa tetap stabil, investor asing akan lebih percaya diri menambah eksposur di pasar saham Indonesia. Sebaliknya, apabila rupiah kembali melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS, tekanan jual asing berpotensi kembali meningkat," ujarnya. Faktor penarik lain termasuk valuasi yang sudah relatif murah dibanding bursa regional, ekspektasi perbaikan kinerja emiten di triwulan II-2026, dan potensi rotasi dari pasar maju ke negara berkembang pasca koreksi saham-saham teknologi global.
PER IHSG kini berada di bawah 9 kali. Murah secara historis, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tolok ukur. Tapi "murah" saja tidak otomatis menarik modal kalau makro masih bergejolak.
Pertanyaannya: pasar menunggu apa tepatnya? Bukan sekadar angka suku bunga. Hendra mengingatkan bahwa forward guidance BI akan lebih menentukan reaksi pelaku pasar ketimbang besaran kenaikan itu sendiri. Kalau BI menyampaikan sinyal pengetatan yang lebih agresif dari ekspektasi, sektor-sektor sensitif suku bunga bisa kena tekanan jangka pendek. Kalau nadanya terukur dan menekankan keseimbangan, pasar kemungkinan merespons tenang karena skenario kenaikan 25 bps sudah lama diperhitungkan.
Baik Hendra maupun Mirae satu suara soal strategi: defensif dan selektif. Sektor perbankan tetap jadi pilihan utama karena fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan selalu jadi tujuan pertama asing ketika sentimen membaik. BMRI direkomendasikan dengan target Rp 4.710, BBCA sebagai pilihan defensif di Rp 6.850, BBRI dengan target Rp 3.130 ditopang prospek pemulihan kredit UMKM. TLKM masuk radar dengan target Rp 3.030 karena valuasi murah dan potensi dividen. Mirae juga melirik BSI, XL Axiata, Adaro, Cimory, dan Japfa.
Untuk akhir tahun, Mirae memasang target IHSG di 6.800 dengan skenario optimistis 7.800 dan pesimistis 5.500. Hendra sedikit lebih berani: kisaran 6.700-6.900, bahkan tidak menutup kemungkinan menguji level 7.000 kalau arus asing konsisten masuk. Semua skenario itu, entah kebetulan atau tidak, bergantung pada satu variabel yang paling susah dikontrol: apakah rupiah bisa bertahan stabil.