SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  PTBA Cetak Laba Bersih Konsolidasi Rp4,06 Triliun...

Bisnis

PTBA Cetak Laba Bersih Konsolidasi Rp4,06 Triliun di Semester I-2026, Saham Melesat 7%

PT Bukit Asam Tbk membukukan laba bersih konsolidasi Rp4,06 triliun di semester I-2026, melonjak 4,2 kali lipat dari periode yang sama tahun lalu, ditopang pemulihan harga batu bara global dan efisiensi biaya yang ketat.

Laba PTBA naik 4,2 kali lipat jadi Rp4,06 triliun di semester I

Semester pertama 2026 jadi babak baru bagi PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Laba bersih konsolidasi perseroan melonjak 322% secara tahunan menjadi Rp4,06 triliun, dari hanya Rp962 miliar di semester I-2025. Pasar merespons cepat: begitu laporan keuangan dirilis, saham PTBA langsung melesat lebih dari 7% ke Rp2.740 per lembar di awal sesi.

Pendapatan usaha tercatat Rp22,03 triliun, tumbuh sekitar 8% secara tahunan. Menariknya, pertumbuhan ini terjadi meski volume penjualan justru turun 2% YoY. Penopangnya adalah harga: Newcastle Index naik 25% YoY, ICI-3 tumbuh 15% YoY, dan average selling price (ASP) PTBA ikut terkerek 10%. Strategi penjualan yang adaptif terhadap momentum harga global agaknya memang jadi senjata andalan manajemen di paruh pertama ini.

Di sisi beban, ceritanya sama menggembirakan. Beban pokok pendapatan turun 2,4% menjadi Rp17,78 triliun, dari Rp18,21 triliun pada semester I-2025. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya volume produksi dan angkutan, plus stripping ratio yang membaik ke 5,26 kali dari 6,17 kali. Laba bruto pun melonjak nyaris 89% YoY menjadi Rp4,25 triliun. EBITDA tercatat Rp4,27 triliun dengan margin 19%.

Bukan berarti tanpa tekanan. Konflik di Selat Hormuz yang bergejolak sejak akhir Februari 2026 mendorong harga BBM industri ke Rp19.503 per liter per akhir Juni, naik 34% YoY. Kenaikan ini merembet ke biaya jasa penambangan dan angkutan kereta api. Beban operasional naik Rp184,84 miliar atau 13% YoY, terutama dari pos umum dan administrasi. PTBA berhasil meredam dampaknya lewat program efisiensi, tapi tekanan biaya ini bisa jadi ujian lebih berat di semester II kalau harga energi tidak mereda.

Produksi batu bara semester I turun 10% YoY, volume angkutan terkoreksi 6%. Tapi pemulihan di kuartal II cukup dramatis. Produksi melonjak 94% secara kuartalan, penjualan naik 8%, dan ASP tumbuh 14% QoQ. Pemulihan inilah yang jadi modal utama PTBA menghadapi paruh kedua.

"Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan," kata Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam pernyataan tertulis.

Dari sisi pasar, porsi domestik menyumbang 51% dari total penjualan, ekspor sisanya 49%. Lima negara tujuan ekspor terbesar mencakup Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Diversifikasi ini setidaknya memberi bantalan jika salah satu pasar bergejolak.

Kontribusi entitas asosiasi juga tidak kecil. Laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama melonjak menjadi Rp438,30 miliar, hampir dua kali lipat dari Rp209,86 miliar di semester I-2025. Penghasilan keuangan naik 6% YoY ke Rp108,58 miliar. Biaya keuangan terpangkas 25% YoY menjadi Rp98,99 miliar seiring penurunan bunga pinjaman bank.

Dengan laba per saham yang disetahunkan, P/E PTBA kini di kisaran 5,96 kali. Murah, setidaknya di atas kertas, untuk emiten BUMN dengan total aset Rp48,10 triliun per 30 Juni 2026.

Sisa pekerjaan rumah ada di eksekusi capex. Rp2,55 triliun. Itulah sisa belanja modal yang harus digelontorkan di semester II jika PTBA serius mengejar target produksi 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton untuk tahun penuh. Dari total anggaran Rp3,64 triliun, baru 30% atau sekitar Rp1,09 triliun yang terealisasi hingga akhir Juni. Volume angkutan dipatok 41 juta ton dengan stripping ratio 5,63 kali.

"Capaian tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan," ujar Bambang. Klaim yang masih perlu dibuktikan di paruh kedua, terutama kalau harga energi kembali bikin kejutan.