SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PMI Manufaktur RI Jatuh ke 49,1, Terburuk dalam Se...

Ekonomi

PMI Manufaktur RI Jatuh ke 49,1, Terburuk dalam Sembilan Bulan

Aktivitas manufaktur Indonesia masuk zona kontraksi di April 2026 dengan PMI 49,1, tertekan perang Timur Tengah yang memicu lonjakan biaya input tertinggi sejak 2022 dan kenaikan harga jual tercepat dalam 12,5 tahun.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, sektor manufaktur Indonesia masuk zona kontraksi.

S&P Global merilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia untuk April 2026 sebesar 49,1, turun dari 50,1 pada Maret. Angka di bawah 50 berarti satu hal: industri sedang menyusut, bukan tumbuh. Penurunan kali ini bukan sekadar teknikal.

Di lantai pabrik, tekanannya nyata. Volume produksi turun dengan laju tercepat sejak Mei 2025. Pesanan baru melemah. Aktivitas pembelian bahan baku ikut melandai. Sebagian besar pelaku usaha menunjuk satu biang kerok yang sama: konflik di Timur Tengah, yang mendorong harga energi, biaya pengiriman, dan harga bahan baku impor ke level tertinggi sejak April 2022.

Yang bikin situasi ini lebih pelik, tekanan biaya itu tidak bisa lagi ditahan di sisi produsen. Harga jual manufaktur Indonesia tercatat naik dengan laju tercepat dalam 12,5 tahun terakhir. Konsumen pun ikut menanggung beban. Dan ketika harga naik, permintaan makin lesu. Lingkaran setan yang susah diputus dalam waktu dekat.

Bagaimana posisi Indonesia di peta ASEAN? Agaknya tidak terlalu menggembirakan.

Dari lima negara ASEAN yang sudah merilis data PMI April, hanya tiga yang masih bertahan di zona ekspansi: Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Indonesia dan Filipina sama-sama tergelincir ke bawah angka 50. Filipina bahkan lebih parah. PMI-nya anjlok ke 48,3 dari 51,3 di bulan sebelumnya, kontraksi pertama sejak November 2025, dengan penurunan pesanan baru terdalam sejak Agustus 2021.

Malaysia justru menguat. PMI-nya naik ke 51,6 dari 50,7, dengan pertumbuhan produksi tercepat sejak Desember 2021. Salah satu penopangnya adalah strategi stockpiling: perusahaan-perusahaan Malaysia aktif menumpuk stok bahan baku dan barang jadi untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Pesanan baru pun kembali tumbuh setelah dua bulan sebelumnya berkontraksi, mencerminkan permintaan domestik yang mulai membaik, meski ekspor masih lemah. Ironisnya, Malaysia pun tidak kebal dari tekanan biaya. Inflasi harga output di sana bahkan menyentuh rekor tertinggi pada April.

Vietnam dan Myanmar masih di zona hijau, tapi napasnya sudah pendek. PMI Vietnam turun ke 50,5 dari 51,2, dengan pesanan baru yang tergerus untuk pertama kalinya dalam delapan bulan. Produksi masih tumbuh, tapi lajunya melambat ke level terendah dalam sepuluh bulan. Myanmar di angka 50,9, juga melemah. Produksinya turun untuk pertama kali sepanjang 2026, dihantam keterbatasan bahan baku, tenaga kerja, dan bahan bakar.

Kontraksi pertama. Dua sektor sekaligus.

Kontraksi PMI Indonesia di awal kuartal II ini bukan sinyal yang bisa diabaikan. Kalau tekanan geopolitik bertahan dua kuartal berturut-turut, yang tadinya terasa sebagai gangguan sementara bisa berubah jadi tren yang lebih persisten. Pertanyaan yang kini menggantung: apakah industri nasional punya cukup bantalan untuk melewati kuartal ini tanpa koreksi yang lebih dalam?