Gelombang PHK berbasis AI yang melanda industri global ternyata tidak semulus yang dibayangkan perusahaan. Laporan Forrester Research mengungkap 55% pemberi kerja mengaku menyesal atas keputusan pemangkasan karyawan yang dipicu adopsi AI, dan sebagian dari mereka kini diam-diam merekrut ulang tenaga manusia yang sebelumnya digantikan mesin.
Ford jadi contoh paling gamblang. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat itu mengakui terlalu mengandalkan AI dalam pengembangan kendaraan, lalu berbalik merekrut lebih dari 350 engineer, sebagian mantan karyawannya sendiri. Klarna tidak jauh berbeda nasibnya. Fintech asal Swedia itu memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan menggantinya dengan chatbot yang diklaim mampu mempersingkat waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit, menghemat sekitar Rp32,7 miliar. Toh hasilnya tidak cukup mendongkrak produktivitas maupun kualitas produk. CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski mengakui perusahaan kebablasan menggunakan AI, dan kini mereka membuka puluhan posisi baru. IBM menempuh jalan serupa: setelah memangkas ribuan karyawan, perusahaan teknologi itu berencana melipatgandakan perekrutan entry-level hingga tiga kali lipat pada 2026.
Ada yang lebih pahit dari sekadar menyesal. Menurut Forrester, pekerjaan yang kembali itu kemungkinan besar dialihkan ke luar negeri atau ditawarkan dengan upah yang jauh lebih rendah. Koreksinya dibebankan ke pekerja, bukan ke perusahaan yang salah ambil keputusan.
Satu kelompok yang paling dirugikan dari seluruh dinamika ini justru bukan mereka yang pernah di-PHK. Melainkan yang belum sempat masuk sama sekali: lulusan baru. Data Burning Glass Institute menunjukkan proporsi lowongan untuk pengalaman tiga tahun ke bawah di bidang-bidang yang rentan digantikan AI anjlok tajam sepanjang 2018-2024. Di pengembangan software, angkanya turun dari 43% menjadi 28%. Analisis data dari 35% menjadi 22%. Konsultasi dari 41% ke 26%. Total lowongan di bidang-bidang ini, ironisnya, tetap stabil atau bahkan meningkat. Perusahaan tidak mengurangi rekrutmen. Mereka hanya melewatkan lulusan baru sepenuhnya.
Tingkat pengangguran sarjana usia 20-24 tahun naik dari 5,2% di periode 2018-2019 menjadi 6,2% saat ini, lebih tinggi dibanding lulusan diploma. Gelar, agaknya, bukan lagi tiket masuk yang dulu diandalkan.
Jackie Swanson dari Gartner menunjuk sebuah ironi struktural yang sudah lama diabaikan. Hampir setiap perusahaan memiliki peta jalan adopsi AI, tapi hampir tidak ada yang punya rencana jujur soal dampaknya terhadap karyawan dan calon pemimpin masa depan mereka. "Setiap organisasi memiliki peta jalan adopsi AI. Namun, hampir tidak ada yang memiliki rencana jujur mengenai apa yang dilakukan AI terhadap karyawan, kecepatan kerja, dan calon pemimpin mereka di masa depan," tulis Swanson. Itulah yang membuat kebijakan PHK berbasis AI kerap terburu-buru dan berakhir menyesal. Pertanyaannya, siapa yang menanggung ongkos dari kalkulasi yang meleset itu?
Sejumlah perusahaan memilih jalan berbeda. Ironclad mengadakan kelas internal agar karyawan bisa beradaptasi dengan AI alih-alih tergeser olehnya. Superhuman memberikan kebebasan kepada tiap tim untuk memilih sendiri perangkat AI yang mereka anggap sesuai. "Kami tidak memulainya dengan mandat AI dari atas ke bawah," kata Chief People Officer Superhuman Kenny Mendes. Dengan pendekatan itu, AI tidak serta-merta dipersepsikan sebagai ancaman oleh karyawan.
Eropa bergerak lebih jauh. Directive 2025/2450 mewajibkan perusahaan berkonsultasi dengan pekerja sebelum mengambil keputusan besar yang berdampak pada pekerjaan mereka, dengan tenggat implementasi 1 Januari 2028 dan sanksi finansial yang diperhitungkan berdasarkan omzet perusahaan. AS masih berkutat pada perdebatan apakah pekerja perlu diberitahu soal dampak AI terhadap pekerjaan mereka. Beda kontinen, beda kecepatan.
Kampus-kampus di Indonesia mulai merasakan tekanan ini. UPH Festival 2026 di Universitas Pelita Harapan, yang ditutup pada 15 Agustus 2026, mengangkat tema yang cukup blak-blakan soal realita pasar kerja masa kini: mengajak mahasiswa baru berpikir tentang kemampuan yang tidak bisa digantikan AI, pertimbangan moral, adaptasi, dan membangun relasi. "AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda," ujar Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan Niel Nielson.
Kalimat itu terdengar seperti motivasi. Konteksnya jauh lebih serius. Bagi lulusan baru yang sedang berjuang menembus pasar kerja yang kian tertutup untuk pemula, bekal manusiawi bukan sekadar pelengkap CV. Entah kebetulan atau tidak, itulah satu-satunya diferensiasi yang paling sulit diotomasikan.