SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  PHK Berdalih AI: Inovasi Sungguhan atau Efisiensi...

Bisnis

PHK Berdalih AI: Inovasi Sungguhan atau Efisiensi Lama Berkedok Baru?

Di saat CEO Nvidia Jensen Huang menyebut PHK berkedok AI sebagai langkah 'malas', ClickUp justru memangkas 22 persen karyawannya demi mengoptimalkan ribuan agen kecerdasan buatan. Debat soal nasib tenaga kerja di era AI kian memanas.

ClickUp Pangkas 22 Persen Karyawan demi Optimasi Agen Kecerdasan Buatan

Gelombang PHK berdalih kecerdasan buatan terus membesar, dan kini perdebatan soal siapa yang benar, siapa yang sekadar cari pembenaran, makin sulit diabaikan.

ClickUp jadi nama terbaru yang masuk daftar. Startup manajemen proyek ini memangkas 22 persen dari total karyawannya pada Selasa, 26 Mei 2025, setelah meluncurkan sekitar 3.000 agen AI secara internal. Karyawan yang bertahan diminta beralih peran: bukan lagi mengerjakan tugas operasional, melainkan mengarahkan dan mengawasi agen digital tersebut. CEO ClickUp Zeb Evans menyebut langkah ini bukan penghematan biasa. Ini, katanya, titik tolak fase baru perusahaan dalam merangkul AI secara penuh.

"Jika Anda menciptakan dampak yang luar biasa dengan menggunakan AI, Anda akan dibayar di luar rentang gaji tradisional," tulis Evans di akun X pribadinya. Ia mengklaim para pekerja yang bertahan berpotensi mengantongi kompensasi jutaan dolar, bukan sekadar gaji bulanan konvensional. Bukan soal menekan biaya, tegasnya, melainkan soal nilai yang diciptakan.

Argumen itu terdengar menggoda di atas kertas. Jensen Huang punya pandangan berbeda.

CEO Nvidia itu, dalam wawancara dengan CNA yang dikutip Asia One, menyebut para pemimpin yang menjadikan AI sebagai alasan PHK sebagai pemimpin yang malas, sekaligus tidak logis. Huang mempertanyakan bagaimana mungkin AI baru dianggap produktif dalam enam bulan terakhir, sementara PHK sudah berjalan sejak dua tahun lalu dengan narasi yang persis sama. "Itu sama sekali tidak masuk akal," tegasnya. Menjadikan AI sebagai kedok PHK, menurut Huang, hanyalah cara agar para CEO terdengar pintar tanpa harus bekerja keras mencari solusi nyata.

Pernyataan itu tidak lahir di ruang hampa. Standard Chartered baru mengumumkan rencana pemangkasan lebih dari 7.000 posisi dalam empat tahun dengan alasan efisiensi berbasis AI. CEO Bill Winters sempat menyebut langkah itu sebagai penggantian sumber daya manusia bernilai rendah dengan modal finansial, pernyataan yang kemudian memaksanya meminta maaf atas "pilihan kata" yang memicu kemarahan publik. Meta pun memberhentikan sekitar 8.000 karyawan, atau 10 persen dari total tenaga kerjanya, sebagian besar dikaitkan dengan belanja besar-besaran infrastruktur AI.

Polanya? Agaknya bukan kebetulan. Survei terbaru Gartner mencatat sekitar 80 persen perusahaan pengguna teknologi otonom telah melakukan PHK. Tapi ada bagian yang sering luput dari narasi besar: Gartner juga menemukan bahwa pengurangan tenaga kerja manusia belum tentu menghasilkan keuntungan finansial yang berarti. Efisiensi di atas kertas tidak selalu berubah jadi profitabilitas di lapangan. Tidak selalu.

Huang sendiri bukan penentang AI. Justru sebaliknya. Ia mendorong semua pihak, termasuk para pekerja yang cemas, untuk segera mempelajari teknologi ini. "Anda takkan kehilangan pekerjaan karena AI. Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang yang mempelajari AI lebih baik dari Anda," ucapnya. Pedas, tapi jujur.

Pertanyaannya, berapa lama narasi optimistis para CEO ini bisa bertahan tanpa bukti yang lebih konkret? ClickUp boleh saja klaim produktivitas meledak berkat ribuan agen digital, tapi data Gartner mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat percaya. Antara klaim eksekutif yang antusias dan riset yang lebih hati-hati, ada jurang yang cukup lebar. Jurang itu yang seharusnya diisi oleh pekerja, regulator, dan pelaku industri bersama-sama, bukan ditutup dengan siaran pers.

Menggunakan AI sebagai alibi, tanpa strategi adaptasi yang jelas bagi karyawan terdampak, bukan inovasi. Itu reorganisasi lama yang dikemas ulang dengan bahasa yang lebih futuristik.