Sekitar Rp3 triliun siap mengalir ke kantong pemegang saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) akhir Juni ini. Salah satu yang paling diuntungkan: Lo Kheng Hong, investor kawakan yang memang sudah lama parkir modal besar di emiten gas pelat merah ini.
Rapat umum pemegang saham tahunan PGAS pada 22 Mei 2026 merestui dividen tunai senilai USD172,29 juta, atau Rp125,61 per lembar saham. Angka itu setara payout ratio 80 persen dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar USD215,36 juta. Sisanya, USD43,07 juta atau 20 persen, masuk ke saldo laba ditahan.
Dividen yield-nya? 6,69 persen. Dihitung dari harga penutupan PGAS di Rp1.875 per saham pada Senin, 25 Mei 2026. Buat investor yang selama ini berburu instrumen penghasil imbal hasil kompetitif, angka itu bukan sesuatu yang mudah dikesampingkan, apalagi tren suku bunga kini mulai melandai.
Lo Kheng Hong, yang kepemilikannya di PGAS cukup besar untuk membuatnya selalu disebut tiap kali emiten ini mengumumkan bagi-bagi untung, diperkirakan mengantongi puluhan miliar rupiah dari aksi korporasi kali ini. Angka pastinya bergantung pada berapa lot yang ia pegang hingga recording date, dijadwalkan 8 Juni 2026 pukul 16.00 WIB.
Jadwal lengkapnya: cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 4 Juni 2026, ex dividen keesokan harinya. Pasar tunai, cum dividen 8 Juni dan ex dividen 9 Juni. Pembayaran baru dilakukan 24 Juni 2026.
Secara fundamental, kinerja PGAS sepanjang 2025 cukup solid untuk bicara angka sebesar ini. Total ekuitas perseroan tembus USD3,6 miliar, sementara saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya tercatat USD215,936 juta. Payout ratio 80 persen yang dijaga konsisten dari tahun ke tahun, entah kebetulan atau tidak, kerap jadi alasan investor dividen untuk bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.
Pertanyaannya, apakah yield 6,69 persen cukup menarik untuk masuk sebelum cum date, atau ini justru momen keluar setelah dividen cair? Dengan ekuitas yang masih tebal dan posisi PGAS sebagai tulang punggung distribusi gas nasional, saham ini bisa jadi bukan sekadar cerita satu musim.