Petani sawit sudah lama jadi pemain paling awal dalam rantai nilai, tapi ironisnya justru yang paling sedikit menikmati hasilnya. Bahan baku mengalir dari desa menuju pabrik, pedagang besar, hingga pasar akhir. Di sepanjang perjalanan itulah nilai ekonomi bertambah berlipat ganda, sementara keuntungan nyaris tidak pernah balik ke tangan yang menanam.
Katryn Pasaribu, Direktur Riset Kaleka, menyebut ini bukan semata soal harga komoditas yang naik-turun. Akarnya lebih dalam dari itu. Sistem produksi dan pengolahan, kata dia, sejak awal memang tidak dirancang untuk menempatkan petani sebagai pihak yang diuntungkan. "Petani sering hanya berada di tahap paling awal dari rantai nilai," ujar Katryn dalam sebuah webinar belum lama ini. Padahal jika mereka bisa mengakses proses pengolahan awal, seperti pengeringan, distilasi, atau pemrosesan pascapanen, nilai tambah yang bisa diserap jauh lebih besar.
Ambil contoh kopi. Dijual mentah, harganya relatif rendah. Setelah melalui pengeringan, sortasi, dan pengolahan tertentu, harganya sudah bisa melonjak tajam sebelum menyentuh industri hilir. Komoditas agroforestri lain punya pola serupa. Selisih antara bahan mentah dan produk setengah jadi, dalam banyak kasus, bukan angka kecil. Sama sekali tidak.
Karena itu, pendekatan yang mulai dikembangkan sekarang adalah membangun fasilitas pengolahan di tingkat komunitas, dari unit pengeringan hingga pengolahan sederhana. Tujuannya jelas: petani tidak lagi hanya menjual bahan mentah. "Intinya adalah manufaktur skala awal," kata Katryn. "Produk belum sampai ke barang jadi, tetapi sudah mendekati tahap akhir." Dengan cara itu, rantai nilai jadi lebih pendek dan lebih adil. Keuntungan yang sebelumnya dikantongi perantara bisa ikut dinikmati di tingkat desa.
Gagasan ini berkaitan langsung dengan meluasnya diskusi soal pertanian regeneratif di sektor perkebunan sawit. SNV Impact Forum 2026 menjadi salah satu momen di mana isu ini naik ke permukaan secara lebih serius. Forum itu menekankan bahwa kolaborasi antara petani dan industri bukan sekadar wacana, melainkan prasyarat agar pertanian regeneratif bisa benar-benar berjalan di lapangan, bukan hanya di atas kertas kebijakan.
Dipadukan dengan agroforestri, pendekatan regeneratif ini agaknya menawarkan lebih dari sekadar janji lingkungan. Dalam sistemnya, beragam tanaman ditumbuhkan bersama dalam satu lanskap, dari tanaman pangan hingga pohon bernilai ekonomi tinggi. Sistem ini membantu menjaga kesuburan tanah, mendongkrak keanekaragaman hayati, sekaligus membuka peluang komoditas bernilai tinggi tanpa harus mengorbankan ekosistem. "Agroforestri regeneratif bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan," tegas Katryn.
Bagi pelaku industri sawit, ini sinyal yang patut dibaca lebih cermat, kalau data dan tren pasar ekspor ini bisa dipercaya sepenuhnya. Tekanan regulasi dari Eropa, khususnya kebijakan deforestasi, membuat praktik pertanian yang bisa dibuktikan berkelanjutan kian punya nilai strategis. Petani yang semula hanya dilihat sebagai pemasok bahan baku kini berpotensi jadi mitra dengan posisi tawar lebih setara, asalkan sistemnya memang dirancang untuk itu.
Pertanyaannya bukan apakah pendekatan ini menarik secara konsep. Bagi investor dan pelaku industri yang mengikuti perkembangan sektor ini, yang lebih relevan justru ini: siapa yang serius membiayai infrastruktur pengolahan di tingkat desa, dan seberapa cepat model ini bisa direplikasi dalam skala yang benar-benar bermakna?