MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pertamina Pangkas Harga BBM Non-Subsidi, Dexlite d...

Bisnis

Pertamina Pangkas Harga BBM Non-Subsidi, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Paling Dalam

Tiga jenis BBM non-subsidi Pertamina resmi turun harga mulai 1 Juli 2026, dengan penurunan terbesar pada Pertamina Dex yang anjlok Rp 3.650 per liter. Pertalite dan solar subsidi tidak berubah.

Daftar Harga BBM Se-Indonesia, Berlaku Hari Ini

Tiga produk BBM non-subsidi Pertamina kompak turun harga sejak 1 Juli 2026, memberi sedikit napas bagi konsumen yang selama ini merogoh kocek lebih dalam untuk bahan bakar berkualitas tinggi.

Penurunan paling tajam terjadi pada Pertamina Dex. Di Pulau Jawa, harganya amblas dari Rp24.800 per liter menjadi Rp21.150 per liter, koreksi sebesar Rp3.650. Dexlite tergerus Rp3.300, dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter. Pertamax Turbo ikut turun dari Rp20.750 ke Rp19.300 per liter. Lumayan, untuk ukuran penyesuaian yang biasanya bergerak malu-malu.

Penyesuaian ini mencakup berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sulawesi. Pertamax dan Pertamax Green tidak beranjak sejak 10 Juni 2026. BBM subsidi Pertalite dan solar pun tetap di posisi semula.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebut penyesuaian ini bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia, pertimbangan fiskal, serta daya beli masyarakat. Penetapan harga, kata Pertamina, selalu mengikuti koridor Keputusan Menteri ESDM, bukan semata-mata grafik pasar internasional secara mentah.

Konteks globalnya memang sedang kondusif. Harga minyak mentah yang melandai beberapa bulan terakhir membuka ruang bagi Pertamina untuk melonggarkan harga jual produk non-subsidi, khususnya di segmen gasoil dan gasoline oktan tinggi. Kalau minyak dunia lagi di atas, ceritanya bisa berbeda.

Yang agak menarik: Pertamina justru mempertahankan Pertamax RON 92 ketika produk diesel dan turbo kompak turun. Bisa jadi pertimbangannya soal segmen. Pengguna Pertamax jauh lebih besar dari pengguna Pertamax Turbo atau Dexlite, dan stabilitas di sana lebih krusial untuk menahan tekanan inflasi di level konsumen.

Penurunan seperti ini, kalau dilihat dari kacamata pelaku usaha, juga punya fungsi sinyal: mekanisme energi nasional bekerja dua arah. Bukan cuma naik. Kepastian itu, meski kelihatannya sepele, membantu perencanaan biaya operasional. Entah kebetulan atau tidak, momen ini datang pas sejumlah industri padat logistik sedang mengeluhkan margin yang kian tipis.

Bagi konsumen ritel, dampak paling terasa di segmen kendaraan diesel dan motor sport yang kerap memakai Pertamax Turbo. Penurunan Rp1.450 hingga Rp3.650 per liter tidak mengubah hidup. Tapi tiap rupiah tetap dihitung.